PADANG, POLIKATA.COM — Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sukses mencatatkan progres tertinggi dalam rehabilitasi lahan pertanian pascabencana di Pulau Sumatera. Capaian ini menuai apresiasi khusus dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), meski dua daerah di Sumbar masih mendapat “catatan merah” karena progres yang stagnan.
Dalam Rapat Koordinasi Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi yang digelar virtual, Kamis (30/4/2026), Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir mengungkapkan bahwa Sumbar unggul jauh dibandingkan Aceh dan Sumatera Utara. Dari target 3.902 hektare lahan terdampak, Sumbar telah mengamankan kontrak hingga 98 persen, dengan pengerjaan fisik mencapai 50,8 persen.
“Capaian Sumbar ini jauh di atas rata-rata nasional yang baru menyentuh angka 6 persen. Ini patut diapresiasi,” tegas Tomsi. Sebagai perbandingan, Aceh baru merealisasikan 0,6 persen dan Sumatera Utara 5 persen.
Namun, di balik rapor hijau tersebut, Kemendagri memberikan peringatan keras kepada Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Pariaman yang hingga kini belum menunjukkan progres berarti. Tomsi Tohir menginstruksikan kedua daerah tersebut untuk segera tancap gas.
“Satgas menargetkan seluruh rehabilitasi rampung akhir Juli. Agustus kita sudah masuk musim kemarau, jangan sampai petani kita terhambat lagi karena masalah teknis yang belum selesai,” tambah Tomsi.
Merespons tekanan tersebut, Pemkab Pesisir Selatan dan Pemko Pariaman menyatakan komitmen untuk merampungkan pengerjaan lebih awal, yakni pada akhir Mei 2026.
Pemerintah Provinsi Sumbar tidak ingin capaian ini melambat. Mewakili Gubernur Mahyeldi, Inspektur Daerah Sumbar, Andri Yulika, memastikan akan ada pengawalan ketat di lapangan. Tidak hanya inspektorat, unsur TNI dan Polri juga akan dikerahkan untuk menjamin proses berjalan cepat dan akuntabel.
“Hasil ini akan segera kami laporkan kepada Bapak Gubernur. Untuk dua daerah yang masih tertinggal, akan kita kawal khusus agar tidak menghambat target provinsi,” ujar Andri Yulika optimistis.
Secara keseluruhan, pemerintah pusat menargetkan pemulihan 42.000 hektare sawah di Sumatera yang rusak akibat bencana. Dengan performa saat ini, Sumbar diharapkan menjadi lokomotif pemulihan ketahanan pangan di wilayah barat Indonesia. (red)











