BeritaPadang

Waspada Grooming di Padang! Rayuan Maut di Medsos, Anak-Anak Diincar Lewat Aplikasi Kencan

×

Waspada Grooming di Padang! Rayuan Maut di Medsos, Anak-Anak Diincar Lewat Aplikasi Kencan

Sebarkan artikel ini
SELAMATKAN ANAK DARI PREDATOR-  Yayasan Gugah Nurani Indonesia menggelar pertemuan lintas pemangku kepentingan bertajuk "Membangun Kemandirian Komunitas dalam Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak Tahun 2026", di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Selasa (28/4/2026). Sejumlah fakta mengejutkan terkait Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) dibeberkan.

PADANG, POLIKATA.COM – Ancaman terhadap anak-anak di era digital telah bergeser dari kekerasan fisik ke ruang siber yang nyaris tak terlihat. Fenomena grooming atau manipulasi orang dewasa terhadap anak di media sosial kini menjadi ancaman nyata yang harus diwaspadai oleh seluruh orang tua di Kota Padang.

Hal tersebut mencuat dalam pertemuan lintas pemangku kepentingan bertajuk “Membangun Kemandirian Komunitas dalam Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak Tahun 2026” yang diinisiasi oleh Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Selasa (28/4/2026).

Ancaman Digital dan Transaksi Mencurigakan

Child Protection Specialist GNI, Cicik Sri Rejeki, membeberkan fakta mengejutkan terkait Online Child Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA). Menurutnya, pelaku kini menggunakan modus halus berupa rayuan di media sosial untuk mengeksploitasi anak.

Baca Juga  Puluhan Tahun Bangun Rumah Orang, Kini Alamsyur Menangis Haru di Ambang Pintu Rumah Sendiri

“Dunia sudah berubah. Ada pola transaksi keuangan mencurigakan yang dipantau PPATK melalui aplikasi live streaming dan kencan yang mengarah pada eksploitasi seksual anak. Ini ngeri dan harus kita cegah sedini mungkin melalui pengawasan ketat penggunaan gawai,” tegas Cicik.

Ia menekankan bahwa perlindungan anak bukan lagi masalah privat atau urusan internal keluarga semata, melainkan tanggung jawab publik yang mendesak.

Senada dengan itu, Ketua Harian P2TP2A Kota Padang, Ermiati, menyoroti pentingnya peran Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Saat ini, PATBM telah terbentuk di 104 kelurahan di Padang, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kepekaan personal anggotanya.

“Aktivis anak itu harus punya nurani, bukan sekadar jabatan formal. Mereka adalah mata dan telinga di lingkungan masing-masing,” ujar Ermiati.

Baca Juga  Batang Kuranji Mengering Usai Banjir Bandang, Guru Besar Faperta Unand Ungkap Penyebabnya

Guna menjamin keamanan pelapor, Ermiati mengungkapkan bahwa layanan P2TP2A sengaja ditempatkan terpisah dari kantor pemerintahan. “Kami ingin warga merasa aman dan privasinya terjaga saat melaporkan kasus. Perlindungan anak adalah sinergi kolektif, mulai dari sektor kesehatan hingga pelaku UMKM,” tambahnya.

Meski jumlah anak dampingan GNI di Padang kini menyusut menjadi 100 anak, fokus utama yayasan tersebut adalah meninggalkan legacy berupa sistem perlindungan yang mandiri di tingkat komunitas.

Pertemuan ini menjadi pengingat keras bagi warga Kota Padang: di tengah tren angka kekerasan anak yang meningkat akibat minimnya pengawasan lingkungan, kepedulian kolektif adalah benteng terakhir bagi masa depan generasi bangsa. (red)