SAWAHLUNTO, POLIKATA.COM— Sejarah panjang Kota Sawahlunto sebagai kota tambang kembali mendapat tambahan bukti visual berharga. Dua foto asli berukuran besar dari tahun 1912 diserahkan peneliti ahli geografi sekaligus penulis asal Belanda, Dick Rozing, kepada Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto.
Foto fisik langka tersebut memperlihatkan lanskap Kota Sawahlunto pada masa awal perkembangan pertambangan batubara, termasuk aktivitas pengangkutan batubara yang masih mengandalkan tenaga kuda.
Penyerahan foto bersejarah itu dilakukan langsung dalam rangkaian kunjungan Dick Rozing bersama rombongannya ke Kota Sawahlunto, Rabu (23/9/2026). Dokumen tersebut dinilai memiliki nilai sejarah tinggi karena merupakan cetakan fisik asli dari era kolonial, bukan hasil reproduksi atau cetak ulang.
Dick Rozing mengungkapkan, foto-foto tersebut diperolehnya di Belanda dari keluarga seorang rekannya. Leluhur rekannya itu diketahui pernah bertugas sebagai kepala tambang di Sawahlunto pada 1915–1916, yakni J. Var Der Kloes.
Keberadaan foto tersebut memberikan gambaran langsung mengenai kondisi Sawahlunto pada masa awal industri pertambangan. Salah satu bagian yang menarik adalah dokumentasi pengangkutan batubara menggunakan tenaga kuda, sebelum sistem transportasi perkeretaapian berkembang untuk mendukung distribusi hasil tambang.
Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto, Rahmat Gino Sea Games, mengatakan kunjungan rombongan Dick Rozing juga dimanfaatkan untuk menelusuri sejumlah jejak sejarah kolonial di kota tersebut.
“Rombongan mengunjungi Museum Kota Sawahlunto, makam Belanda, dan rumah mantan kepala tambang Ijzerman,” ujar Gino.
Menurutnya, penyerahan foto asli tersebut menjadi tambahan penting bagi dokumentasi sejarah Kota Sawahlunto. Foto tidak hanya memperlihatkan aktivitas pertambangan pada masa lalu, tetapi juga memberikan gambaran mengenai perkembangan tata ruang dan kehidupan kota tambang.
Dokumentasi pengangkutan batubara dengan tenaga kuda juga menjadi bagian penting dalam merekonstruksi perkembangan teknologi transportasi pertambangan di Sawahlunto.
Pada periode berikutnya, jaringan kereta api uap Staatsspoorwegen ter Sumatras Westkust berkembang menembus kawasan Pegunungan Bukit Barisan dan menghubungkan wilayah pertambangan dengan Pelabuhan Teluk Bayur yang ketika itu dikenal sebagai Emmahaven.
Karena berasal dari masa tersebut dan merupakan benda fisik asli, foto-foto itu dapat menjadi sumber visual primer untuk melihat perubahan lanskap perkotaan Sawahlunto dari masa ke masa. Detail bangunan, jalur transportasi, aktivitas tambang, hingga pola kehidupan masyarakat yang terekam dalam foto dapat membantu memperkaya penelitian sejarah industri pertambangan di Indonesia.
Gino mengatakan, Dinas Kebudayaan menyambut baik penyerahan dokumen tersebut. Keberadaan foto asli itu akan memperkaya koleksi dokumentasi sejarah sekaligus menjadi bahan edukasi mengenai perkembangan peradaban tambang batubara di Sumatera Barat.
“Foto ini sangat berarti untuk memperkaya dokumentasi dan edukasi sejarah Kota Sawahlunto,” katanya.
Selain memperkaya koleksi sejarah, keberadaan dokumen visual primer tersebut juga memiliki arti penting bagi upaya menjaga dan memperkuat narasi Sawahlunto sebagai bagian dari Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Dokumen sejarah yang autentik dapat menjadi bagian dari sumber pendukung dalam memahami perkembangan Sawahlunto sebagai kota tambang atau company town. Dengan demikian, dua foto asli yang tersimpan selama lebih dari satu abad di Belanda kini kembali hadir di kota yang direkam dalam gambar tersebut.
Temuan ini sekaligus membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut mengenai sejarah pertambangan Sawahlunto, terutama untuk mengungkap perubahan teknologi, sistem transportasi, tata ruang kota, serta kehidupan masyarakat pada masa awal industri batubara. (*)












