PADANG, POLIKATA.COM— Setiap pukul lima pagi, ketika sebagian warga Kelurahan Kubu Marapalam masih terlelap, dapur Rika Hijra (47) di Jalan Sutomo, Padang Timur, sudah mengepulkan aroma gurih. Di atas kompor, racikan gulai paku dan cubadak mengelegak perlahan, menyebarkan wangi hangat yang kelak menyapa para pembeli langganannya.
Bagi Rika, kepulan asap dapur itu bukan sekadar urusan menyiapkan dagangan sarapan pagi. Itu adalah dentak nadi kehidupan keluarganya— sebuah jalan panjang penuh peluh dan air mata yang berawal dari keputusasaan enam tahun silam.
Tahun 2020 menjadi titik terkelam dalam hidup Rika dan suaminya, Kurniawan Eka Putra (50). Pandemi Covid-19 menghantam industri pariwisata, membuat Kurniawan yang kala itu bekerja di sebuah hotel di Kota Padang terpaksa merumahkan cita-citanya akibat pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di tengah tabungan yang kian menipis dan dua anak yang butuh biaya sekolah, ketakutan sempat membayangi. Bayangan untuk menyerah dan mudik ke kampung halaman di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, sempat terlintas. Namun, Rika menatap kedua buah hatinya dan memutuskan satu hal, mereka harus bertahan.
Berbekal modal seadanya dan kelihaian meracik bumbu dapur, Rika dan Kurniawan nekat membuka gerai sarapan sederhana di pinggir Jalan Sutomo.
“Dulu benar-benar dikerjakan berdua. Suami yang bantu angkat gerobak, siapkan bahan, sampai cuci piring. Pokoknya saling bahu-membahu,” kenang Rika sembari melayani pesanan pelanggan.
Ketekunan pasangan ini membuahkan hasil. Hanya dalam tiga bulan, usaha kecil itu mulai kebanjiran pembeli hingga mereka mampu mempekerjakan seorang warga sekitar untuk membantu.
Ujian yang Tak Menghentikan Langkah
Roda kehidupan kembali menguji ketabahan Rika pada Januari 2026. Kurniawan terserang stroke, membuat fisiknya tak lagi mampu berdiri lama di samping gerobak seperti biasa.
Ujian itu berat, namun Rika menolak menyerah. Kini, memasuki tahun keenam usahanya, ia berdiri tegak mengemudikan bahtera keluarga. Usaha sarapan paginya berkembang pesat hingga mampu mempekerjakan empat orang karyawan. Dari piring-piring lontong pical dan gulai paku yang ia sajikan saban pagi, Rika berhasil membiayai kuliah putra sulungnya dan sekolah putri bungsunya di bangku SMA.
Sentuhan rasa yang konsisten menjadi kunci kesetiaan para pelanggannya. Erwandi, seorang pembeli setia sejak 2020, mengaku tidak pernah berpaling. “Masakannya pas di lidah, gulai pakisnya enak dan rasanya dari dulu tidak pernah berubah,” tuturnya saat menikmati sarapan.
Perjuangan Rika juga mendapat dorongan semangat dari Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Baznas Semen Padang berupa bantuan gerobak dan peralatan memasak. Bagi Rika, bantuan itu bukan sekadar modal fisik, melainkan suntikan harapan bahwa usahanya diakui dan didukung.
Setiap mangkuk lontong yang disajikan Rika bukan lagi sekadar penawar lapar di pagi hari. Di dalamnya, terikat kisah tentang cinta seorang istri, keteguhan seorang ibu, dan bukti bahwa dari titik terendah sekalipun, keberanian untuk bangkit selalu menemukan jalannya.
Manajer UPZ Baznas Semen Padang Akmal mengatakan, bantuan modal usaha kepada Rika Hijra dan Kurniawan Eka Putra merupakan bagian dari program ekonomi UPZ Baznas Semen Padang yang diarahkan untuk membantu penerima manfaat agar dapat membangun kemandirian ekonomi.
Menurutnya, terdapat sejumlah pertimbangan dalam menentukan penerima bantuan modal usaha. Di antaranya, penerima telah memiliki usaha yang berjalan, pasangan suami istri saling mendukung dalam menjalankan usaha, memiliki tanggungan keluarga, serta menunjukkan komitmen dalam menjaga dan mengembangkan usahanya.
“Kami melihat mereka sudah memiliki usaha, suami istri saling mendukung dan membantu, memiliki tanggungan, serta mereka sangat menjaga usahanya,” kata Akmal.
Bantuan yang diberikan tidak berhenti pada penyerahan modal dan peralatan. UPZ Baznas Semen Padang juga melakukan monitoring terhadap penerima manfaat untuk melihat perkembangan usaha sekaligus memastikan bantuan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
“Bantuan awalnya berupa gerobak dan alat-alat masak. Selanjutnya kami juga melakukan monitoring kepada penerima manfaat agar usaha terus berkembang,” ujarnya.
Akmal menyebutkan, dana zakat yang dihimpun dari karyawan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan. Salah satunya dengan membantu masyarakat yang telah memiliki usaha agar dapat meningkatkan kapasitas ekonomi keluarganya.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang Win Bernadino mengatakan, perjalanan usaha Rika dan suaminya menjadi salah satu gambaran dari pemanfaatan dana zakat yang dihimpun melalui UPZ Baznas Semen Padang.
Menurutnya, program tersebut diarahkan agar bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga dapat mendorong penerima manfaat mengembangkan usaha dan memperkuat perekonomian keluarga. “Ini merupakan bukti bahwa program yang dijalankan UPZ Baznas Semen Padang tepat sasaran dan sesuai dengan peruntukannya,” kata Win.
Kisah Rika menunjukkan bahwa sebuah usaha yang bermula dari keterbatasan dapat terus tumbuh ketika dikelola dengan ketekunan dan dukungan yang tepat. Dari hanya berdua dengan suami pada 2020, usaha sarapan pagi tersebut kini telah membuka kesempatan kerja bagi empat orang sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.
Di tengah kondisi suami yang masih dalam proses pemulihan setelah terserang stroke, Rika tetap menjalankan usaha tersebut. Setiap pagi, ia kembali menyiapkan masakan dan melayani pelanggan, melanjutkan ikhtiar yang telah dimulainya enam tahun lalu. (*)












