PADANG, POLIKATA.COM — Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan di atas kertas ilmiah. Fenomena global ini telah nyata menghantam sektor pertanian nasional dan meremukkan pola tanam tradisional. Uniknya, respons dan jurus bertahan para petani di wilayah barat dan timur Indonesia ternyata jauh berbeda dalam menghadapi anomali cuaca ini.
Kenyataan pahit tersebut dikupas tuntas dalam riset internasional bertajuk “Towards Climate-Resilient Farming Systems: Evaluating Vulnerability and Adaptation Options for Agriculture in West and East Indonesia”. Penelitian ini dipimpin oleh Guru Besar Universitas Andalas (UNAND), Prof. Dr. Ir. Rudi Febriamansyah, M.Sc., berkolaborasi dengan Yuerlita, Ph.D (UNAND), Dr. Sugeng Nugroho (GWA Koto Tabang), serta dua pakar asal Pakistan, Dr. Raza Ullah dan Dr. Malik Muhammad Shafi.
Melalui payung Program International Research Network-EQUITY World Class University (WCU), tim membedah potret komparatif antara petani padi di Kabupaten Tanah Datar (Sumatera Barat) yang mewakili karakteristik wilayah barat yang basah, dengan Kabupaten Bulukumba (Sulawesi Selatan) yang mewakili wilayah timur yang cenderung lebih kering.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian tidak dapat disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik, tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi yang berbeda. Intervensi pemerintah harus berbasis kondisi lokal,” tegas Prof. Rudi saat diwawancarai, Rabu (19/8/2026).
Data riset berbasis metode campuran (mixed-method) ini merekam jeritan petani di kedua wilayah akibat pergeseran alam. Di Sumatera Barat, mayoritas absolut petani merasakan perubahan lingkungan secara ekstrem: 96,2 persen merasakan variabilitas curah hujan yang kacau, 95,7 persen mengeluhkan lonjakan suhu, 88 persen mendapati perubahan pola hujan, dan 77 persen krisis air.
Sementara itu, wilayah Sulawesi Selatan menghadapi potret kerentanan yang berbeda. Ancaman air bah menjadi momok utama di wilayah timur ini, di mana 58,1 persen responden melaporkan wilayahnya diterjang banjir. Angka ini melonjak dua kali lipat dibanding Sumatera Barat yang hanya mencatat keluhan banjir sebesar 27,3 persen.
Adu Strategi: Agronomis vs Teknologi
Perbedaan lanskap alam memicu lahirnya kearifan lokal dan strategi bertahan yang kontras. Petani di Sumatera Barat lebih memilih jalur agronomis konvensional dan penyelamatan tanah. Sebanyak 25,4 persen petani melakukan diversifikasi tanaman, 23,9 persen menerapkan rotasi tanaman, dan 20,6 persen mengandalkan penggunaan mulsa untuk menjaga kelembapan tanah.
Sebaliknya, petani di Sulawesi Selatan melompat ke pendekatan teknologi modern dan rekayasa varietas. Tercatat 37,6 persen petani di sana beralih ke varietas padi tahan iklim ekstrem, 27,1 persen memilih benih berumur pendek agar cepat panen, 26,7 persen melakukan diversifikasi, dan 26,2 persen memadukan lahan dengan konsep agroforestri.
Prof. Rudi menjelaskan bahwa perbedaan kontras ini membuktikan kapasitas adaptasi petani sangat berkelindan dengan kondisi lingkungan setempat, ketersediaan air, pasokan sumber daya, hingga karakteristik sosial sistem pertanian mereka.
Rekomendasi Kebijakan Berbasis Bukti
Melihat disparitas adaptasi ini, riset merekomendasikan agar pemerintah pusat maupun daerah segera meninggalkan pendekatan kebijakan yang seragam (one-size-fits-all). Sebaliknya, pemerintah didorong memperkuat tiga pilar utama: optimalisasi layanan penyuluhan pertanian, pembenahan total pengelolaan sumber daya air, serta investasi masif pada teknologi pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture).
Langkah konkret ini krusial demi menyokong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 terkait Tanpa Kelaparan dan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
“Ketahanan pangan masa depan taruhannya. Keberlanjutan isi piring kita sangat bergantung pada seberapa cepat dan tepat kita membantu petani beradaptasi. Hasil riset ini harus segera diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi nyata di bawah,” pungkas Prof. Rudi. (*)












