BeritaDaerahPadang Panjang

Satu Jam Tanpa Cahaya: Aksi Nyata Padang Panjang Dukung Gerakan Global Earth Hour

×

Satu Jam Tanpa Cahaya: Aksi Nyata Padang Panjang Dukung Gerakan Global Earth Hour

Sebarkan artikel ini
SATU JAM TANPA CAHAYA- Suasana berbeda tampak di sudut-sudut utama Kota Padang Panjang pada Sabtu (25/4/2026) malam. Tepat pukul 20.30 WIB, denyut cahaya di jantung kota seolah terhenti. Lampu-lampu jalan, gedung pemerintahan, hingga videotron yang biasanya gemerlap seketika padam, menyisakan kesunyian yang bermakna dalam gerakan global Earth Hour.

PADANG PANJANG, POLIKATA.COM – Suasana berbeda tampak di sudut-sudut utama Kota Padang Panjang pada Sabtu (25/4/2026) malam. Tepat pukul 20.30 WIB, denyut cahaya di jantung kota seolah terhenti. Lampu-lampu jalan, gedung pemerintahan, hingga videotron yang biasanya gemerlap seketika padam, menyisakan kesunyian yang bermakna dalam gerakan global Earth Hour.

Aksi mematikan lampu selama 60 menit ini bukan sekadar pemadaman teknis, melainkan pernyataan sikap Pemerintah Kota Padang Panjang dalam melawan perubahan iklim. Berkolaborasi dengan PT PLN (Persero) ULP Padang Panjang, kota ini resmi bergabung dengan jutaan warga dunia lainnya lewat tema sentral: “Satu Jam untuk Bumi, untuk Masa Depan Kita”.

Wali Kota Hendri Arnis menegaskan bahwa kegelapan singkat ini adalah simbol pengingat bagi setiap individu.

Baca Juga  Musrenbang Tiga Kecamatan di Siberut Mentawai, Wabup Tekankan Hilirisasi dan Ekonomi Inklusif

“Ini bukan seremoni belaka. Pemadaman simbolis ini adalah pesan kuat bahwa setiap kita punya peran. Langkah kecil mematikan saklar lampu adalah kontribusi nyata untuk napas bumi yang lebih panjang,” ujar Hendri Arnis di tengah aksi pemadaman tersebut.

Pantauan di lapangan, sejumlah ikon kota mulai dari Balai Kota, kantor DPRD, kawasan PDIKM, hingga area publik di Bukit Surungan dan sepanjang Jalan Sutan Syahrir tampak gelap gulita. Tak hanya fasilitas publik, sektor swasta seperti kafe dan restoran pun turut larut dalam aksi ini, menciptakan atmosfer kota yang tenang dan reflektif.

Meski demikian, pemkot memastikan layanan urgensi tetap terjaga. Rumah sakit, puskesmas, dan klinik tetap berpijar demi menjamin keselamatan warga.

Baca Juga  Lautan Anak Sekolah Padati Jalan Sudirman, Lomba Gerak Jalan HUT RI ke-81 Padang Panjang Heboh Hingga Antarwilayah

Padang Panjang kini bersanding dengan kota-kota metropolis dunia seperti Sydney dan Dubai yang juga rutin memadamkan ikon mereka. Namun, bagi Hendri Arnis, target utamanya bukan sekadar rekor, melainkan perubahan perilaku masyarakat.

“Harapan saya, gerakan ini tidak mati begitu lampu dinyalakan kembali pukul 21.30 tadi. Ini harus jadi gaya hidup. Matikan yang tidak perlu, hemat energi, dan jadikan hemat listrik sebagai identitas baru warga Padang Panjang,” tegasnya menutup narasi aksi malam itu.

Lewat satu jam tanpa cahaya, Padang Panjang membuktikan bahwa untuk menjaga masa depan yang cerah, terkadang kita perlu berani berada dalam kegelapan. (red)