JAKARTA, POLIKATA.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan masih menjadi perhatian serius pemerintah. Hingga Sabtu (22/8/2026), penanganan terus diperkuat melalui pengerahan personel gabungan, operasi pemadaman darat, water bombing, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan penyebaran titik api dan mencegah kebakaran meluas.
Pemerintah menetapkan enam provinsi sebagai wilayah prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, serta wilayah prioritas lain di Sumatera seperti Riau, Sumatera Selatan dan Jambi. Operasi darat tetap menjadi ujung tombak, sementara dukungan udara digunakan untuk mempercepat pemadaman dan pengendalian kebakaran.
Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan luas karhutla di sejumlah provinsi Kalimantan telah mencapai puluhan ribu hektare. Rinciannya, sekitar 38.319 hektare di Kalimantan Barat, 8.019 hektare di Kalimantan Selatan, 7.635 hektare di Kalimantan Tengah, 2.715 hektare di Kalimantan Timur, dan sekitar 400 hektare di Kalimantan Utara.
Untuk memperkuat operasi udara, pemerintah kembali mengerahkan lima pesawat TNI Angkatan Udara (AU) dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada Jumat (21/8). Tambahan armada tersebut memperkuat puluhan pesawat yang sebelumnya telah beroperasi dalam penanganan karhutla.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan pengerahan armada udara tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat penanganan karhutla di wilayah yang memiliki potensi kebakaran tinggi.
Selain lima pesawat tambahan, TNI AU juga mengerahkan tiga pesawat Cassa-212 untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca. Satu pesawat Cassa-212 A-2105 ditempatkan di Lanud Dhomber, Balikpapan, untuk mendukung OMC di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN). Sementara Cassa-212 A-2117 disiapkan untuk wilayah Kalimantan Timur dan A-2103 untuk Kalimantan Selatan.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari sinergi TNI bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). OMC dilakukan dengan memanfaatkan kondisi atmosfer yang memungkinkan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan pembasahan.
Di sisi lain, kekuatan personel juga ditambah. Pemerintah mengerahkan sekitar 12.880 personel gabungan untuk memperkuat penanganan karhutla. Operasi tersebut mencakup pemadaman di lapangan, pembangunan sumur bor, patroli kawasan rawan, hingga dukungan udara.
BNPB sebelumnya juga telah memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Tengah melalui kombinasi operasi darat dan udara. Dukungan udara antara lain berupa helikopter patroli, helikopter water bombing, serta pesawat untuk pelaksanaan OMC.
Pemerintah menegaskan bahwa operasi darat tetap menjadi prioritas utama. Tim gabungan di lapangan terus melakukan pemadaman, pendinginan dan penanganan titik api, terutama di wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut dan sulit dijangkau.
Karhutla Kalimantan Belum Usai, 45 Personel Manggala Agni Ditambah dan Patroli Diperketat
Sementara itu, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, mengatakan penguatan operasi dilakukan secara berkelanjutan, terutama di wilayah yang memiliki kondisi kebakaran cukup kompleks dan membutuhkan waktu penanganan lebih panjang.
“Operasi belum selesai. Pemadaman darat dan udara terus berjalan, terutama di lokasi yang membutuhkan penanganan panjang,” ujar Yudho.
Menurutnya, kondisi personel juga menjadi perhatian karena operasi karhutla telah berlangsung cukup lama. Untuk menjaga stamina dan efektivitas tim di lapangan, sebanyak 45 personel Manggala Agni ditambahkan. Selain penambahan kekuatan, rotasi petugas dilakukan agar personel tetap dapat bekerja secara optimal.
Penguatan juga mencakup penyediaan sumber air, peralatan pemadaman, logistik hingga layanan kesehatan bagi petugas yang berada di lapangan.
Yudho menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi. Kolaborasi berbagai unsur menjadi kunci untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah kebakaran kembali meluas.
“Kami mengapresiasi Masyarakat Peduli Api, sukarelawan, TNI, Polri, BPBD, DLHK, pemerintah daerah, dan masyarakat yang sudah berminggu-minggu bekerja bersama Manggala Agni di lapangan. Menjaga Kalimantan dari kebakaran bukan pekerjaan satu institusi,” tegasnya.
Selain fokus pada pemadaman, operasi pencegahan juga terus ditingkatkan melalui patroli darat dan udara. Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin, sehingga api dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Keterlibatan Masyarakat Peduli Api (MPA), sukarelawan, dan masyarakat setempat dinilai sangat penting. Mereka berada paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran dan memiliki pemahaman terhadap karakteristik wilayah masing-masing.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diharapkan dapat segera melaporkan apabila menemukan kemunculan api maupun asap yang berpotensi menjadi karhutla.
Yudho menilai pencegahan merupakan bagian yang tidak kalah penting dari operasi pemadaman. Deteksi dan penanganan sejak dini dapat mengurangi risiko kebakaran meluas sekaligus mencegah personel harus terus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain selama periode rawan karhutla.
Penguatan operasi tersebut diharapkan mampu menjaga wilayah Kalimantan dari ancaman kebakaran yang berulang, sekaligus memastikan keselamatan dan ketahanan personel yang berada di garis depan penanganan karhutla. (*)









