JAKARTA, POLIKATA.COM – Kabupaten Kepulauan Mentawai resmi memperkenalkan wajah barunya kepada dunia. Melalui peluncuran city branding di Jakarta, Kamis (7/5/2026) lalu, Bumi “Bumi Sikerei” ini menegaskan posisinya bukan sekadar destinasi liburan, melainkan pusat pengalaman autentik yang memadukan magisnya budaya lokal dengan tantangan ombak kelas dunia.
Bupati Mentawai, Rinto Wardana, menyatakan bahwa strategi pariwisata ke depan akan bergeser dari sekadar mengejar angka kunjungan menjadi pengejaran kualitas pengalaman. Ia menyebut konsep ini sebagai “Beyond Tourism”.
“Wisatawan yang datang ke Mentawai mencari sesuatu yang tidak bisa ditemukan di tempat lain: keaslian. Yang akan mereka bawa pulang adalah pengalaman hidup (experience). Karena itu, kita harus melampaui standar pariwisata biasa,” ujar Rinto di hadapan para undangan di Jakarta.
Dalam narasi branding terbarunya, sosok Sikerei diposisikan sebagai jantung identitas Mentawai. Lebih dari sekadar simbol, Sikerei adalah tokoh adat, tabib, dan orang bijak yang menjadi jembatan antara manusia dengan alam melalui ramuan hutan tradisional.
Rinto menjelaskan bahwa menjadi seorang Sikerei bukanlah perkara mudah. Ada prosesi adat panjang dan pantangan ketat yang harus dijalani, seperti memanjangkan rambut hingga larangan mengonsumsi sayur pakis selama ritual berlangsung.
“Sikerei adalah ikon yang tak terpisahkan. Mereka adalah nyawa dari kebudayaan kita yang diwariskan turun-temurun,” tambahnya.
Surga 78 Titik Ombak
Selain kekuatan mistis budayanya, Mentawai tetap mengandalkan aset alaminya yang telah mendunia: selancar (surfing). Dengan koleksi 78 titik ombak (wave spots) yang tersebar di berbagai pulau, Mentawai tetap menjadi kiblat bagi para peselancar profesional internasional.
Perpaduan antara pesona ombak yang menantang dan kehidupan unik masyarakat lokal diharapkan mampu memperkuat posisi Mentawai dalam peta persaingan pariwisata global, sekaligus menjaga kelestarian alam dan tradisi asli Kepulauan Mentawai. (red)












