BeritaPadangSumatera Barat

Unand Dorong Rendang Minangkabau Go Internasional, Kolaborasi ABG Diperkuat

×

Unand Dorong Rendang Minangkabau Go Internasional, Kolaborasi ABG Diperkuat

Sebarkan artikel ini
Unand Dorong Rendang Minangkabau Go Internasional, Kolaborasi ABG Diperkuat
DIALOG ABG — Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar bersama jajaran Universitas Andalas dan pelaku usaha mengikuti Dialog Interaktif ABG untuk Akselerasi Produk Gastronomi Nusantara di Gedung Rektorat Unand, Kampus Limau Manis, Padang, Selasa (15/9/2026). Dialog membahas pengembangan dan hilirisasi rendang Minangkabau agar semakin berkualitas dan berdaya saing hingga pasar internasional. (FOTO: Dok. Humas Unand)

PADANG, POLIKATA.COM— Universitas Andalas (Unand) mendorong penguatan kolaborasi Academia, Business, Government (ABG) untuk mempercepat pengembangan dan hilirisasi produk gastronomi Nusantara. Rendang Minangkabau menjadi salah satu produk yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan hingga menembus pasar internasional.

Upaya tersebut mengemuka dalam Dialog Interaktif ABG untuk Akselerasi Produk Gastronomi Nusantara yang digelar di Ruang Rapat Senat, Gedung Rektorat Unand, Kampus Limau Manis, Selasa (15/9/2026).

Dialog menghadirkan Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar, Wakil Rektor I Unand Prof. Syukri Arief, serta Ketua Himpunan Pengusaha Rendang Minang (HIPERMI), Rina.

Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar mengatakan rendang dipilih karena memiliki kekuatan gastronomi, keunikan lokal, serta telah dikenal secara luas di tingkat internasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat besar. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui inovasi, standardisasi, dan jaminan keamanan pangan agar produk gastronomi Nusantara semakin mampu bersaing.

“Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat besar. Rendang memiliki identitas yang kuat dan sudah mempunyai branding internasional,” ujar Taruna.

Ia menyebut BPOM mencatat lebih dari 135 ribu produk telah memiliki nomor izin edar. Jika digabungkan dengan produk pangan yang memiliki izin Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), jumlahnya mendekati 800 ribu produk.

Baca Juga  88 Jemaah Padang Panjang Siap Ketuk Pintu Langit di Padang Arafah

Taruna menegaskan terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian dalam pengembangan produk pangan, yakni keamanan, kualitas, dan manfaat. Standardisasi diperlukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari berbagai risiko keamanan pangan, termasuk mikroorganisme, aflatoksin, dan Salmonella.

Karena itu, perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam menghadirkan inovasi teknologi untuk meningkatkan daya tahan produk tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan. Pengembangan tersebut perlu didukung pengujian berbasis bukti ilmiah.

Sementara itu, Wakil Rektor I Unand Prof. Syukri Arief mengatakan Unand memiliki berbagai sumber daya akademik dan riset yang dapat mendukung pengembangan produk gastronomi.

Dukungan tersebut mencakup fakultas, program studi, pusat riset pangan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Direktorat Hilirisasi, hingga Science Techno Park.

“Dengan kepakaran yang dimiliki, Unand dapat mendorong pengembangan produk agar semakin berkualitas dan memiliki daya saing,” katanya.

Kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah diharapkan tidak berhenti pada penelitian, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk yang siap dipasarkan dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Ketua HIPERMI Rina mengungkapkan, organisasinya saat ini memiliki sekitar 400 anggota yang tersebar di Sumatera Barat maupun luar daerah. Menurutnya, pelaku usaha rendang masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi standar pasar.

Baca Juga  Fadly Amran Beberkan Progul Padang Juara di Konferensi Internasional Unand, Kirim Mahasiswa ke Tiongkok

Tantangan tersebut semakin penting seiring terbukanya peluang pasar yang lebih luas, termasuk kebutuhan konsumsi untuk jamaah haji dan umrah serta pasar internasional.

“Peningkatan kapasitas produksi dan pemenuhan standar pasar menjadi tantangan yang perlu kami jawab bersama,” ujar Rina.

Di sisi lain, Rektor Unand Dr. Efa Yonnedi, S.E., MPPM, Akt., mendorong adanya upaya sistematis untuk menggali sekaligus mendokumentasikan kekayaan rendang Minangkabau.

Ia menyebut terdapat lebih dari 100 jenis rendang yang perlu diteliti dan didokumentasikan. Kekayaan tersebut dinilai tidak hanya penting dari sisi kuliner, tetapi juga dapat menjadi rujukan ilmiah dan budaya sekaligus dasar bagi pengembangan inovasi produk.

Gagasan penyusunan buku mengenai ragam rendang Minangkabau tersebut diharapkan dapat menjadi proyek kolaboratif yang melibatkan LPPM Unand, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan pemerintah.

Melalui penguatan kolaborasi ABG, Unand mendorong agar kekayaan gastronomi Nusantara tidak sekadar menjadi warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk bernilai tambah, aman, berkualitas, dan memiliki daya saing di pasar nasional maupun global. (*)