PADANG PARIAMAN, POLIKATA.COM — Tanaman kaliandra yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai hijauan dan tanaman pendukung energi terbarukan mulai dikembangkan menjadi sumber pakan ternak dan ikan oleh masyarakat Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman.
Potensi tersebut diperkenalkan kepada kelompok tani kaliandra melalui pelatihan pengolahan pakan yang digelar di Amal Plaza, 10–11 September 2026. Tak hanya dibekali pengetahuan dan praktik, masyarakat juga mendapat dukungan peralatan berupa mesin pencacah dan mesin pembuat pelet.
Pelatihan menghadirkan dosen Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP), Prof. Ramaiyulis dan Auzia Asman, sebagai narasumber. Keduanya memberikan pemahaman mengenai pengolahan kaliandra untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak maupun ikan.
Prof. Ramaiyulis menjelaskan, kaliandra berpotensi menjadi salah satu bahan pakan bagi ternak ruminansia, seperti sapi, kambing, dan kerbau. Namun, penggunaannya harus melalui pengolahan dan formulasi yang tepat agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Potensi kaliandra ini bisa untuk membuat produk makanan ternak, terutama sapi dan kambing,” kata Prof. Ramaiyulis saat memberikan materi kepada peserta.
Salah satu teknologi yang diperkenalkan adalah pembuatan silase. Daun kaliandra dapat dicampurkan dengan bahan hijauan lain, seperti batang jagung, rumput gajah maupun jerami padi.
Dalam praktiknya, peserta diperkenalkan pada formulasi sekitar 70 persen batang jagung dan 30 persen daun kaliandra. Campuran tersebut dapat ditambahkan dedak, kemudian difermentasi dan disimpan dalam wadah selama kurang lebih satu minggu.
“Batang jagung menjadi bahan utama, sedangkan kaliandra dapat berperan sebagai sumber nutrisi tambahan dalam formulasi pakan,” jelasnya.
Selain silase, peserta juga mempelajari pembuatan pakan berbentuk pelet. Kaliandra tidak digunakan sebagai bahan tunggal, melainkan dikombinasikan dengan bahan lain sesuai kebutuhan nutrisi ternak.
Sementara itu, Auzia Asman memperkenalkan pemanfaatan tepung kaliandra sebagai salah satu bahan formulasi pakan ikan. Tepung kaliandra dapat dikombinasikan dengan tepung ikan, tepung jagung, tepung tapioka, minyak ikan, vitamin dan mineral.
Komposisi setiap bahan disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi pakan yang hendak diproduksi. Peserta kemudian mengikuti praktik pengolahan bahan hingga menjadi pelet.
Pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan teori. Masyarakat juga mendapat kesempatan mempraktikkan langsung proses pengolahan, mulai dari penyiapan bahan hingga menghasilkan pakan.
Dukungan peralatan turut diberikan untuk menunjang penerapan di lapangan. Dalam kegiatan tersebut diserahkan satu unit mesin pencacah, satu unit mesin pembuat pelet serta 10 unit stup madu galo-galo.
Bagi kelompok tani, keberadaan mesin tersebut menjadi modal awal untuk mengembangkan pengolahan kaliandra secara lebih praktis. Sebab, selama ini pemanfaatan kaliandra lebih banyak dilakukan dalam bentuk hijauan, sedangkan pengolahan menjadi silase maupun pelet membutuhkan peralatan khusus.
Manajer Koperasi Amal Sejahtera Mandiri, Purdiman Pirang, mengapresiasi pelatihan dan dukungan sarana produksi tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PT Semen Padang yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Semoga bantuan ini bermanfaat sehingga dapat diterapkan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap peralatan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga kegiatan pengolahan kaliandra tidak berhenti sebatas pelatihan, tetapi berlanjut menjadi aktivitas produktif kelompok tani.
Apresiasi serupa disampaikan Perwakilan Camat IV Koto Aur Malintang, Sumardi. Menurutnya, pelatihan tersebut membuka wawasan masyarakat untuk melihat potensi yang ada di lingkungan sekitar sebagai peluang pengembangan ekonomi.
Sementara itu, Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Hernes, mengatakan pelatihan dan bantuan sarana produksi merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang diarahkan pada pengembangan potensi lokal dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Kegiatan tersebut menggandeng PPNP sebagai institusi pendidikan yang memiliki kompetensi di bidang pertanian, peternakan dan teknologi pengolahan.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mendorong masyarakat agar potensi kaliandra yang ada dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” kata Hernes.
Menurutnya, TJSL PT Semen Padang tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Karena itu, pelatihan dan pendampingan menjadi bagian penting dari program.
“Program TJSL PT Semen Padang tidak hanya diarahkan pada pemberian bantuan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Karena itu, pelatihan dan pendampingan menjadi bagian penting,” ujarnya.
Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, mengatakan kolaborasi dengan perguruan tinggi diperlukan agar masyarakat memperoleh pengetahuan yang aplikatif dan dapat langsung diuji di lapangan.
Menurutnya, keberlanjutan program sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan pengetahuan dan sarana yang telah diberikan.
Dengan pengolahan menjadi silase dan pelet, kaliandra yang tumbuh di sekitar masyarakat Aur Malintang berpeluang tidak hanya dimanfaatkan sebagai tanaman hijauan, tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dukungan mesin pencacah dan pembuat pelet sekaligus menjadi langkah awal bagi kelompok tani untuk menguji pengembangan pakan berbasis bahan lokal sesuai ketersediaan bahan baku, kebutuhan ternak dan ikan, serta kemampuan produksi masyarakat setempat. (*)






