PADANG, POLIKATA.COM— Komitmen Pemerintah Kota Padang dalam menekan Angka Tidak Sekolah (ATS) hingga titik nol bukan sekadar jargon. Hal ini dibuktikan dengan langkah responsif Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang dalam menyelamatkan masa depan Dio Patuta (18) dan Afil Mulyadi (17), dua remaja penghuni Panti Asuhan Nur Ilahi yang sempat diminta “angkat kaki” dari sekolahnya akibat tunggakan uang seragam.
Kasus ini bermula pada Sabtu (2/5), saat Ketua LKSA Panti Asuhan Nur Ilahi, Renol Putra, menerima pesan singkat dari kepala sekolah salah satu Madrasah Aliyah Swasta (MAS) di Padang. Pihak sekolah menagih pelunasan uang seragam sebesar Rp300 ribu. Mirisnya, pesan tersebut juga menyiratkan agar kedua siswa mencari sekolah lain jika tidak mampu melunasi.
“Saya diminta Rp300 ribu untuk pelunasan seragam Dio. Ada chat dari Kepsek yang intinya anak-anak disuruh cari sekolah lain saja,” ungkap Renol pedih.
Kisah ini sempat viral dan memicu empati publik. Meski pihak sekolah sempat membujuk mereka kembali, trauma mendalam membuat Dio dan Afil enggan. Mereka mengaku ‘baibo hati’ (sakit hati) dan khawatir menjadi sasaran perundungan jika tetap bertahan di sekolah lama.
Mendengar kabar tersebut, Wali Kota Padang, Fadly Amran, langsung menginstruksikan tim Disdikbud untuk turun ke lapangan. Pada Jumat (8/5/2026), Sekretaris Disdikbud beserta Kabid SMP mengunjungi panti asuhan untuk menyerahkan bantuan biaya pendidikan.
Proses penyerahan bantuan ini dipantau langsung oleh Kepala Perwakilan Ombudsman Sumatera Barat, Adel Wahidi. Kehadiran Ombudsman memastikan bahwa pelayanan publik di sektor pendidikan berjalan transparan dan tidak ada diskriminasi terhadap siswa kurang mampu.
“Sesuai permintaan kedua siswa, kami fasilitasi perpindahan mereka ke sekolah baru. Ini adalah upaya nyata Pemko Padang memastikan tidak ada pelajar yang kehilangan hak pendidikan hanya karena kendala biaya,” tegas Kepala Disdikbud Kota Padang, Yopi Krislova, Sabtu (9/5/2026).
Komitmen “Padang Juara”
Langkah cepat ini sejalan dengan Program Unggulan (Progul) “Padang Juara”. Berdasarkan data terbaru, Pemerintah Kota Padang terus berupaya memperkecil celah angka putus sekolah. Intervensi tidak hanya dilakukan melalui APBD, tetapi juga kolaborasi dengan Baznas dan bantuan sektor swasta.
“Prinsipnya, kami ingin menekan Angka Tidak Sekolah (ATS) hingga titik nol. Sekolah dan wali murid harus proaktif berkomunikasi. Jangan sampai masalah finansial membunuh cita-cita anak bangsa,” tambah Yopi.
Bagi Dio, remaja asal Mentawai yang bercita-cita menjadi guru ini, bantuan tersebut adalah secercah harapan baru. “Saya ingin tetap sekolah meski harus pindah. Cita-cita saya ingin jadi guru,” ujarnya optimistis.
Kini, Dio dan Afil bisa kembali fokus mengejar mimpi mereka tanpa harus dibayangi ketakutan akan tagihan yang tak mampu mereka bayar. (*)












