Berita

1 dari 2 Remaja Sumbar Pernah Alami Kekerasan, 9 Ribu Kasus Bak Gunung Es!

×

1 dari 2 Remaja Sumbar Pernah Alami Kekerasan, 9 Ribu Kasus Bak Gunung Es!

Sebarkan artikel ini
FESTIVAL ANAK— Seorang anak penyandang disabilitas unjuk kebolehan dan kreativitas dalam kegiatan Festival Anak memeriahkan Hari Anak Nasional ke-42, di halaman Istana Gubernur Sumbar, Minggu (26/7/2026).

PADANG, POLIKATA.COM— Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Sumbar dirayakan dengan kegiatan Festival Anak di halaman Istana Gubernur Sumbar, Minggu (26/7/2026). Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat menciptakan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, serta bebas dari kekerasan, perundungan, dan eksploitasi.

Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Sumbar tidak hanya menjadi ajang perayaan bagi anak-anak, tetapi juga momentum memperkuat komitmen seluruh pihak dalam memenuhi hak dan perlindungan anak. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Sumbar, Herlin Sridiani mengatakan, Festival Anak di Sumbar sebagai momentum bersama memastikan hak-hak anak terpenuhi sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Herlin menjelaskan, peringatan Hari Anak Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa persoalan kekerasan terhadap anak masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, satu dari dua anak berusia 13 hingga 17 tahun di Sumatera Barat pernah mengalami kekerasan.

Baca Juga  Wujudkan Padang Smart City, 500 Kepala Sekolah Dilatih Kuasai Kecerdasan Buatan AI

“Berdasarkan data Simfoni KemenPPPA belum sampai 10 persen. Pada 2025 ada 760 kasus kekerasan terhadap anak, namun berdasarkan berbagai studi dan tinjauan lembaga lainnya ada mencapai 9 ribu lebih kasus, kondisi ini merupakan tantangan bagi pemerintah daerah dalam melakukan penjangkauan,” katanya.

Herlin menambahkan, Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak korban yang belum berani menyampaikan pengalamannya atau belum mendapatkan akses terhadap layanan perlindungan. “Ada disparitas yang lebar antara data jumlah kekerasan terhadap anak yang masuk ke Simfoni KemenPPPA dan riset ataupun studi berbagai pihak, ini jadi pekerjaan rumah bagi kami. Langkah yang harus diambil adalah meningkatkan penjangkauan terhadap korban anak maupun pelaku, agar tidak terjadi kasus di masa mendatang,” ujar Herli.

Sementara itu, Ketua Forum Anak Daerah Sumatera Barat, Raghief Al Azzam mengatakan, Dalam puncak peringatan tersebut, pihaknya menyampaikan 16 Suara Anak yang merupakan aspirasi anak-anak dari 19 kabupaten dan kota. Aspirasi itu diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak dan mempercepat terwujudnya Sumatera Barat sebagai provinsi layak anak.

Baca Juga  Sambut Pemudik, Pemkab Agam Siapkan Posko Ketupat di Titik-titik Rawan Bencana

“Ada yang membahas tentang kekerasan terhadap anak, fasilitas yang ramah anak dan memberikan hak yang aman dan nyaman kepada anak penyandang disabilitas. Anak generasi emas 2045 ini penting memiliki kesehatan mental yang kuat dan kepercayaan diri untuk menyampaikan aspirasi mereka harus dibekali dengan keberanian,” katanya.

Peringatan Hari Anak Nasional di Sumatera Barat diharapkan menjadi titik penguatan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam mencegah kekerasan terhadap anak. Dengan perlindungan yang optimal, ranah minang diharapkan mampu melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing menuju Indonesia yang semakin ramah anak.  (*)