JAKARTA, POLIKATA.COM — Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade terus mengawal percepatan reaktivasi jalur kereta api di Sumatra Barat (Sumbar) sebagai bagian dari pembangunan konektivitas nasional. Komitmen itu ditunjukkan melalui pertemuan dan diskusi bersama Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, membahas langkah strategis menghidupkan kembali jalur rel yang telah lama tidak beroperasi di Ranah Minang.
Dalam perbincangan tersebut, Andre menegaskan bahwa reaktivasi jalur kereta api bukan sekadar proyek transportasi, melainkan jawaban atas kebutuhan masyarakat Sumatera Barat yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur jalan.
“Reaktivasi kereta api di Sumbar memang menjadi harapan masyarakat. Data KAI menunjukkan pengguna kereta api di Sumbar terus meningkat. Tahun 2021 jumlah penumpang sekitar 1,09 juta orang, sedangkan pada 2025 sudah mencapai sekitar 1,9 juta penumpang. Artinya, masyarakat Sumbar memang membutuhkan kereta api,” kata Andre yang juga Ketua Umum DPP Ikatan Keluarga Minang (IKM).
Menurut Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar itu, Sumatera Barat memiliki keunggulan dibanding daerah lain karena jaringan rel kereta api sudah tersedia sejak zaman Hindia Belanda. PT KAI juga memiliki aset sekitar 11.000 hektare di Sumbar yang menjadi salah satu aset perkeretaapian terbesar di Indonesia.
“Ini berbeda dengan daerah lain yang harus membangun rel baru. Di Sumbar lahannya sudah dimiliki KAI dan jalurnya sudah ada. Yang diperlukan adalah reaktivasi terhadap jalur yang selama ini tidak beroperasi,” ujarnya.
Andre menjelaskan, tahap pertama reaktivasi direncanakan menghubungkan Kayu Tanam-Padang Panjang-Bukittinggi-Baso-Payakumbuh hingga Limbanang. Selanjutnya, tahap kedua akan menghubungkan Padang Panjang-Solok-Muaro Kalaban-Sawahlunto hingga Tanjung Ampalu dan Padang Tarok.
Ia menilai proyek tersebut akan memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi, pariwisata, hingga distribusi logistik di Sumatera Barat.
Selain melayani angkutan penumpang, Andre juga melihat prospek besar dari angkutan barang, terutama dengan rencana PT Bukit Asam mengembangkan kembali tambang bawah tanah di Sawahlunto mulai 2027.
“Kalau produksi batu bara di Sawahlunto kembali berjalan, tentu akan membutuhkan moda angkutan yang aman dan efisien. Tidak mungkin seluruh hasil tambang diangkut menggunakan truk melalui jalan darat seperti Sitinjau Lauik karena berisiko menimbulkan kemacetan dan membahayakan keselamatan. Kereta api menjadi solusi yang paling tepat,” katanya.
Andre juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian serius terhadap pembangunan konektivitas Pulau Sumatera melalui jaringan rel kereta api dari Aceh hingga Lampung.
Ia berharap Sumatera Barat menjadi salah satu prioritas karena memiliki jalur eksisting yang tinggal direaktivasi. “Saya bersyukur Presiden Prabowo memberikan perhatian besar kepada Sumatera Barat. Program pembangunan jalur kereta api lintas Sumatera ini merupakan langkah strategis, dan Sumbar memiliki kesiapan karena aset serta jalurnya sudah tersedia. Tinggal direaktivasi sehingga manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin membenarkan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan arahan agar jaringan kereta api dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung dapat saling terhubung melalui jalur timur dan jalur barat.
Menurut Bobby, jalur barat menjadi sangat penting karena melewati Kota Padang dan merupakan bagian dari rencana besar pembangunan jaringan kereta api Trans Sumatera.
“Bulan lalu kami mendapat arahan langsung dari Bapak Presiden Prabowo agar jaringan kereta api dari Banda Aceh sampai Bandar Lampung dapat terkoneksi. Untuk jalur barat, tentu melewati Kota Padang,” ujar Bobby.
Ia menjelaskan bahwa sejak masa kolonial Belanda, jalur kereta api di Sumatera Barat memang dirancang untuk menghubungkan Padang dengan Pekanbaru karena memiliki potensi logistik yang sangat besar.
“Rel yang ada sekarang sebenarnya sudah sampai Limbanang. Tinggal sedikit lagi menuju Bangkinang dan selanjutnya Pekanbaru. Ini menjadi benang merah dari arahan Presiden untuk membangun jaringan Trans Sumatera Railways,” kata Bobby.
Andre berharap proses reaktivasi dapat segera dimulai sehingga masyarakat Sumatera Barat dapat melihat langsung realisasi program tersebut dalam waktu dekat. Menurutnya, kehadiran kereta api tidak hanya akan memperlancar mobilitas masyarakat, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi Sumatera Barat sebagai salah satu simpul penting konektivitas Pulau Sumatera. (*)












