PADANG, POLIKATA.COM— Di tengah gempuran tren kuliner modern yang kian menjamur, eksistensi makanan tradisional Minangkabau tetap menemukan ruang di hati para pencintanya. Hal ini dibuktikan oleh Martina (40), pemilik usaha Lamang Tapai Uni Tina yang berlokasi di Seberang Padang Utara RT 07 RW 04, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Perempuan yang akrab disapa Uni Tina ini tetap konsisten mempertahankan cita rasa autentik kuliner warisan leluhur yang didapatkannya secara turun-temurun dari pihak keluarga.
Usaha lamang tapai yang dijalankannya saat ini merupakan kelanjutan dari usaha orang tua yang telah dirintis sejak lama. Uni Tina sendiri mengaku telah meneruskan tongkat estafet bisnis keluarga tersebut selama kurang lebih 10 tahun terakhir dengan membuka usaha secara mandiri di lokasi kediamannya sekarang.
“Saya memilih usaha lamang tapai ini karena ingin meneruskan usaha orang tua. Usaha ini memang sudah turun-temurun dari keluarga,” ujar Martina.
Sebagai salah satu kuliner khas Minangkabau, lamang tapai dinilai memiliki nilai budaya yang tinggi sekaligus potensi ekonomi yang menjanjikan jika dikelola dengan baik. Menyadari potensi tersebut, Uni Tina berkomitmen penuh untuk terus menjaga kualitas produknya agar penganan tradisional ini tidak kehilangan peminat dan tetap mampu bersaing di pasar lokal.
Lamang Tapai Uni Tina sendiri memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan produk sejenis, terutama pada tekstur lamang yang lembut dengan cita rasa gurih santan yang pekat. Tidak hanya menyediakan lamang tapai orisinal, ia juga terus berinovasi memanjakan lidah pelanggan dengan menghadirkan berbagai varian rasa tradisional lainnya.
“Lamang di tempat kami teksturnya lembut dan rasa santannya tetap terasa. Kami juga menyediakan beberapa variasi lamang untuk memenuhi selera pelanggan, seperti lamang baluo, lamang pisang, dan lamang pulut hitam,” jelasnya tersenyum.
Di tengah situasi ekonomi saat ini, mempertahankan kualitas rasa menjadi strategi utama yang dipilih Uni Tina dalam menjaga loyalitas pelanggan. Menurutnya, fluktuasi atau kenaikan harga bahan baku di pasar sama sekali tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi takaran atau mengubah standar rasa yang telah dipercaya masyarakat selama bertahun-tahun.
“Walaupun harga bahan baku naik, rasa tetap kami jaga dan tidak pernah berubah. Itu yang menjadi komitmen kami kepada pelanggan,” tegas ibu berusia 40 tahun tersebut dengan penuh keyakinan.
Kabar baiknya, perjuangan Uni Tina dalam merawat kuliner tradisional ini tidak berjalan sendirian. Selain mengandalkan kualitas produk dan resep rahasia keluarga, ia juga mendapatkan perhatian dan pembinaan intensif dari komunitas pelaku UMKM di Kecamatan Padang Selatan, yang berfokus pada penguatan sektor hilir usaha.
“Kami dibina oleh UMKM Padang Selatan. Alhamdulillah, mereka selalu membantu dalam pemasaran dan promosi produk lamang tapai kami ke berbagai tempat, termasuk saat ada kegiatan atau acara tertentu,” tambahnya.
Melalui konsistensi dalam menjaga cita rasa serta adanya dukungan pembinaan UMKM yang berkelanjutan, Martina berharap usaha Lamang Tapai Uni Tina dapat terus berkembang pesat. Langkah ini diharapkan tidak hanya menggerakkan roda ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya nyata dalam melestarikan warisan kuliner tradisional Minangkabau agar tetap dikenal dan digemari oleh generasi muda mendatang. (*)












