BeritaHeadlinePadang

Mengetuk Pintu Langit di Hari Ketujuh: Ratusan Siswa SDN 06 Kampung Lapai Shalat Gaib untuk Rasyid dan Zafran di Halaman Sekolah

×

Mengetuk Pintu Langit di Hari Ketujuh: Ratusan Siswa SDN 06 Kampung Lapai Shalat Gaib untuk Rasyid dan Zafran di Halaman Sekolah

Sebarkan artikel ini
SHALAT GAIB- Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti halaman SDN 06 Kampung Lapai pada Jumat (24/4/2026) pagi. Di bawah langit yang seolah ikut berduka, ratusan siswa, majelis guru, hingga Kepala Sekolah berkumpul dalam satu barisan shaf yang rapat. Shalat Gaib dipimpin langsung Kepala SDN 06 Kampung Lapai, Abdullah Ginting.

PADANG, POLIKATA.COM – Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti halaman SDN 06 Kampung Lapai pada Jumat (24/4/2026) pagi. Di bawah langit yang seolah ikut berduka, ratusan siswa, majelis guru, hingga Kepala Sekolah berkumpul dalam satu barisan shaf yang rapat. Bukan untuk upacara rutin, melainkan untuk melangitkan doa melalui Shalat Gaib bagi dua kawan mereka, Muhammad Ismail Ar Rasyid (8), siswa kelas 2A dan Zafran, siswa kelas 3B.

Hari ini menandai hari ketujuh hilangnya Rasyid dan Zafran setelah terseret arus pada Sabtu pekan lalu, di Pantai Ujung Karang, Ulak Karang Utara, di belakamg Kampus UBH, Meski upaya pencarian fisik terus dilakukan oleh tim SAR dan relawan, pihak keluarga kini menitipkan harapan pada kekuatan doa.

Shalat Gaib ini dilaksanakan secara khusus atas permintaan menyentuh dari orang tua Rasyid, Muhammad Imron dan Dewi Purnama Sari. Melalui pesan yang menggetarkan hati, mereka mengajak seluruh kerabat dan masyarakat untuk melakukan “ikhtiar langit” di hari Jumat yang penuh berkah ini.

“Semoga dengan ikhtiar langit ini, bisa membantu ditemukannya jasad putra kami Rasyid dan temannya Zafran,” tulis orang tua Rasyid dalam pesan permohonannya.

Baca Juga  Pemko Padang Hadirkan Pasar Pabukoan di RTH Imam Bonjol, 39 Meja Disediakan

Kepala SDN 06 Kampung Lapai, Abdullah Ginting, memimpin langsung jalannya shalat di halaman sekolah. Suasana pecah saat doa dipanjatkan; isak tangis guru dan rekan sekelas Rasyid serta Zafran tak terbendung. Bagi teman-temannya, absennya kedua bocah tersebut selama sepekan meninggalkan lubang besar di ruang kelas mereka.

“Kami berupaya memberikan dukungan moril sepenuhnya kepada keluarga. Hari ini kami berserah diri, memohon kepada Tuhan agar pencarian ini segera membuahkan hasil dan keluarga diberikan ketabahan yang luar biasa,” ujar Abdullah Ginting dengan nada getir usai pelaksanaan shalat.

Abdullah Ginting menegaskan bahwa Shalat Gaib ini adalah bentuk kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Ia menyebut seluruh warga sekolah telah berupaya melapangkan dada atas takdir yang menimpa kedua anak didik mereka.

“Dengan Shalat Gaib ini, kami semua sudah ikhlas dengan apapun kondisi Rasyid dan Zafran. Jika memang itu yang terbaik menurut Allah, kami terima. Namun, besar harapan kami agar mereka segera dipertemukan kembali dalam keadaan apapun. Kami semua berdoa agar Allah memberikan petunjuk-Nya,” ujar Abdullah Ginting dengan nada bergetar usai pelaksanaan shalat.

Baca Juga  Unand Ajak Siswa Sungai Penuh Siapkan Diri Masuk Perguruan Tinggi

Shalat Gaib ini, kata Abdullah Ginting dilakukan mengingat pencarian telah memasuki hari-hari kritis tanpa kepastian ditemukannya korban secara fisik, pihak sekolah melakukan shalat gaib sebagai bentuk penghormatan dan permohonan ampunan bagi Rasyid dan Zafran.

Di sela suasana duka, Ummi Suhaimi, guru PAI SDN 06 Lapai, mengenang sosok Zafran sebagai anak yang sangat taat beribadah meski di usia yang masih belia.

“Alhamdulillah, Ananda Zafran itu selalu shalat subuh berjamaah. Bahkan Maghrib dan Isya pun selalu berjamaah, jauh sebelum program Smart Surau dicanangkan. Kami menyaksikan sendiri ketaatannya,” ungkap Ummi Suhaimi penuh haru.

Karakter shaleh inilah yang membuat hati orang tuanya bangga dan membuat begitu banyak orang merasa kehilangan serta menyayangi kedua bocah tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus menyisir lokasi-lokasi yang menjadi titik kemungkinan keberadaan korban. Shalat Gaib ini menjadi simbol bahwa meski raga belum ditemukan, ingatan dan doa bagi Rasyid dan Zafran tetap hidup di hati orang-orang terdekat mereka. (red)