PADANG, POLIKATA.COM – Upaya pencarian besar-besaran terhadap dua siswa SD yang hilang terseret ombak di Pantau Ujung, Karang, Kecamatan Padang Utara, di belakang Kampus Universitas Bung Hatta, Kelurahan Ulak Karang, resmi dihentikan. Setelah tujuh hari penyisiran tanpa hasil, Tim SAR Gabungan menyatakan operasi pencarian ditutup pada Jumat (24/4/2026) pukul 18.00 WIB.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pencarian orang hilang.
“Tepat pukul 18.00 WIB hari ini, operasi resmi kami hentikan. Tim gabungan telah berupaya maksimal menyisir area selama tujuh hari berturut-turut, namun keberadaan kedua korban belum berhasil ditemukan,” ujar Hendri dalam keterangan resminya.
Sebelum operasi resmi ditutup, suasana duka mendalam menyelimuti sekolah tempat kedua korban menimba ilmu. Pada Jumat pagi, ratusan siswa, guru, dan staf SDN 06 Kampung Lapai berkumpul di halaman sekolah untuk menggelar shalat gaib berjamaah.
Di bawah langit mendung, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk. Guru dan teman-teman sekelas Rasyid dan Zafran tak kuasa membendung air mata.
Shalat gaib ini dilakukan sebagai bentuk kepasrahan sekaligus harapan agar kedua bocah tersebut segera ditemukan dalam kondisi apa pun. Kehadiran kursi kosong di ruang kelas mereka menjadi pengingat pilu atas tragedi yang terjadi sepekan lalu.
Ketegaran di Tengah Keputusasaan
Suasana haru menyelimuti bibir pantai saat pengumuman penghentian operasi dilakukan. Orang tua dari Rasyid (8) dan Zafran (9) dilaporkan masih enggan beranjak dari lokasi. Selama sepekan terakhir, mereka setia menunggu di tepi laut, berharap ada mukjizat yang membawa putra mereka pulang.
Kedua korban merupakan siswa SD 06 Kampung Lapai, yang dilaporkan hilang saat berenang bersama empat rekan lainnya pada Sabtu (18/4/2026) lalu.
Tragedi bermula saat kondisi ombak mulai tidak bersahabat dan air laut mengeruh. Dari empat anak yang mencoba kembali ke tepian, Rasyid dan Zafran terseret arus kuat dan hilang ditelan ombak.
Operasi kemanusiaan ini melibatkan ratusan personel dari berbagai unsur, mulai dari BPBD, Basarnas, Damkar, TNI/Polri, PMI, hingga Tagana dan relawan lokal. Tim menggunakan perahu karet untuk menyisir perairan, namun cuaca dan kondisi laut menjadi tantangan berat selama proses pencarian.
Peringatan Keras bagi Orang Tua
Menanggapi tragedi memilukan ini, pihak Basarnas dan BPBD Padang mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat.
“Kami meminta seluruh orang tua untuk ekstra waspada. Jangan biarkan anak-anak berenang di pantai tanpa pengawasan ketat, terutama saat kondisi cuaca dan ombak tidak menentu. Keamanan anak adalah prioritas utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegas Komandan Regu (Danru) Basarnas Padang Tri Desyu Herman, Jumat sore.
Meski operasi gabungan resmi berakhir, koordinasi dengan nelayan dan warga lokal akan tetap dijaga.
“Jika di kemudian hari ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, operasi dapat dibuka kembali secara situasional,” tutup Tri Desyu. (red)












