PADANG, POLIKATA.COM– Indonesia kembali berada di lampu kuning lingkungan hidup. Data terbaru tahun 2025 mengungkap fakta pahit: angka deforestasi nasional melesat hingga 433.751 hektare—lonjakan drastis sebesar 66 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan sinyal bahaya bagi keselamatan bentang alam nusantara.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Prof. Dian Fiantis, memperingatkan bahwa tren penggundulan hutan ini memiliki korelasi maut dengan rentetan bencana yang menghantam Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera.
“Lonjakan deforestasi ini berbanding lurus dengan bencana banjir dan longsor di penghujung 2025. Kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di bagian hulu telah mencapai titik kritis,” ujar Prof. Dian, Kamis (9/4).
Meski Kalimantan tetap memegang rekor kehilangan hutan terluas sejak 2013, lonjakan di wilayah lain sangat mengkhawatirkan. Tanah Papua mencatat kenaikan deforestasi hingga 348 persen. Namun, sorotan tajam tertuju pada Pulau Sumatera.
Tiga provinsi di Sumatera mencatat lonjakan yang bikin geleng kepala: Aceh naik 426 persen dan Sumatera Utara 281 persen. Angka paling ekstrem ditemukan di Sumatera Barat, di mana deforestasi meroket hingga 1.034 persen.
Kondisi ini, menurut Prof. Dian, akan memukul langsung ketahanan pangan nasional. Sebagai salah satu lumbung pangan utama selain Jawa dan Sulawesi, kesuburan tanah vulkanis di Sumatera kini terancam.
“Ketika hutan hilang, bukan hanya pohon yang tumbang, tapi produktivitas lahan pertanian pun ikut rontok. Ujung-ujungnya, ketersediaan pangan di pasar nasional yang akan terganggu,” jelasnya.
Ancaman Ganda: El Nino 2026 dan Bencana Hidrometeorologi
Peringatan Prof. Dian tak berhenti di situ. Ia mengingatkan bahwa kondisi hutan yang gundul akan memperparah dampak fenomena El Nino yang diprediksi tiba pada April 2026 dengan intensitas kuat.
Tanpa hutan yang berfungsi menjaga siklus air, udara akan menjadi lebih kering dan curah hujan menurun drastis. Akibatnya? Kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan yang sulit dikendalikan. Namun, ancaman justru memuncak saat fase peralihan.
“Saat hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, tanah yang sudah rusak strukturnya akibat kekeringan tidak lagi mampu menyerap air. Air langsung mengalir di permukaan, memicu banjir bandang dan longsor. Inilah lingkaran setan bencana yang kita hadapi,” ungkap Prof.
Prof. Dian menegaskan bahwa bencana saat ini tidak bisa lagi dianggap sebagai “faktor alam” semata. Ini adalah hasil interaksi fatal antara perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan lokal yang masif.
“Kita tidak bisa lagi hanya memantau cuaca. Kita harus melihat kondisi hutan, kesehatan tanah, dan keseimbangan ekologi secara utuh,” tegasnya.
Jika aksi nyata pengendalian deforestasi tidak segera dilakukan, Indonesia berisiko terjebak dalam siklus bencana yang tak berujung. Alam tak lagi mampu melindungi kehidupan, dan manusia yang akan menanggung ongkos mahalnya. (red)












