PADANG, POLIKATA.COM – Warga di sejumlah wilayah di Sumatera Barat, khususnya di Kota Padang dikejutkan oleh kemunculan fenomena benda langit misterius pada Sabtu (4/4/2026) malam. Cahaya terang yang melintas cepat di langit tersebut sempat memicu kepanikan sekaligus decak kagum warga yang menyaksikannya secara langsung.
Fenomena ini dilaporkan terlihat jelas di beberapa daerah, mulai dari Kota Padang, Pariaman, hingga kawasan Bukittinggi Sabtu malam.
Sejumlah video amatir yang direkam warga segera viral di media sosial, memperlihatkan bola api dengan ekor cahaya panjang yang perlahan pecah menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya menghilang di cakrawala.
Bahkan kemunculan benda langit itu dikaitkan dengan gempa bumi yang mengguncang Mentawai, Sabtu (4/4/2026) sekitar pukul 18.21 WIB.
“Benda langit itu melintas setelah gempa di Mentawai,” komentar Deni (42), warga Parupuk Tabing, Kota Padang.
Deni berharap, fenomena tak biasa itu tidak menjadi pertanda buruk. Karena dia mengaku juga tak mengetahui apa yang melintas di langit tersebut.
Sementata, salah seorang warga di Padang Pariaman menuturkan bahwa benda tersebut bergerak lebih lambat daripada meteor biasa dan memiliki warna kemerahan yang sangat mencolok.
Teka-teki Terjawab: Bukan Meteor, Melainkan Debris
Menanggapi kehebohan tersebut, sejumlah sumber ahli dan pengamat antariksa memberikan konfirmasi mengenai identitas benda langit tersebut. Berbeda dengan dugaan awal warga yang mengiranya sebagai meteor atau “bintang jatuh”, benda tersebut dipastikan adalah Debris atau sampah antariksa.
Debris merupakan material sisa dari aktivitas manusia di luar angkasa, seperti bekas bagian roket, satelit tua yang sudah tidak beroperasi, atau pecahan wahana antariksa lainnya.
“Benda tersebut adalah debris yang kembali memasuki atmosfer bumi (re-entry). Saat masuk dengan kecepatan tinggi, gesekan dengan atmosfer menyebabkan material tersebut terbakar hebat dan menghasilkan cahaya terang seperti bola api,” ungkap sumber terkait.
Karakteristik cahaya yang pecah menjadi beberapa bagian (fragmentasi) dan durasi penampakan yang lebih lama dibandingkan meteor menjadi ciri khas bahwa benda tersebut adalah benda buatan manusia. Debris ini biasanya terbakar habis di atmosfer sebelum menyentuh daratan, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu hoaks yang tidak berdasar.
Sementara, prakirawan dari BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau memberikan penjelasan awal. Berdasarkan analisis sementara, cahaya tersebut diduga berasal dari benda yang memasuki atmosfer bumi.
Ia menjelaskan, dari video yang beredar, objek tersebut menyerupai benda langit yang masuk ke atmosfer dengan kecepatan tinggi. Akibat gesekan dengan lapisan udara, benda tersebut mengalami pemanasan hingga terbakar dan memancarkan cahaya terang yang terlihat dari permukaan Bumi.
Fenomena seperti ini umumnya berkaitan dengan meteor, yaitu batuan luar angkasa yang masuk ke atmosfer dan terbakar sebelum mencapai permukaan. Namun, kemungkinan lain juga tidak menutup peluang bahwa cahaya tersebut berasal dari puing antariksa.
“Bisa benda angkasa seperti komet atau meteor, bisa juga puing antariksa seperti sisa roket ataupun satelit lama,” jelasnya.
BMKG masih melakukan pendalaman untuk memastikan jenis objek yang terlihat tersebut. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak panik, karena fenomena ini umumnya tidak berbahaya selama benda tersebut habis terbakar di atmosfer.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih terus memantau apakah ada sisa material yang mencapai permukaan bumi, meskipun kemungkinan besar seluruh bagian telah menguap akibat panas ekstrem saat proses jatuh. (red)












