BeritaDaerahHeadlineSawahluntoSumatera Barat

Menyingkap Rahasia “The Windows of Ombilin Basin”, 18 Situs Purba Sawahlunto Menuju Warisan Geologi Dunia

×

Menyingkap Rahasia “The Windows of Ombilin Basin”, 18 Situs Purba Sawahlunto Menuju Warisan Geologi Dunia

Sebarkan artikel ini
FORUM GROUP DISCUSSION— Pemerintah Kota Sawahlunto melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk menyamakan persepsi usai Kementerian ESDM menetapkan 18 situs geologi di kota tambang ini sebagai calon warisan geologi (geoheritage).

SAWAHLUNTO, POLIKATA.COM— Fosil-fosil purba dan hamparan batu bara di perut bumi Sawahlunto kini bukan lagi sekadar rekam jejak masa lalu. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja menetapkan 18 situs geologi di kota tambang ini sebagai calon warisan geologi (geoheritage). Langkah ini menjadi fondasi kuat bagi pengembangan Geopark Sawahlunto yang megah bertajuk “The Windows of Ombilin Basin”.

Bukan sekadar proyek konservasi, penetapan ini adalah babak baru untuk menyulap kekayaan alam menjadi motor penggerak wisata edukasi dan ekonomi warga Sumatera Barat. Namun, sebuah visi besar selalu menuntut kesiapan dari akar rumput.

Menyadari hal itu, Pemerintah Kota Sawahlunto langsung bergerak cepat. Ruang pertemuan pada Rabu siang itu riuh oleh diskusi hangat. Perwakilan pemerintah, camat, kepala desa, lurah, hingga para mahasiswa Teknik Geologi Universitas Islam Riau (UIR) duduk bersama dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) untuk menyamakan persepsi.

Diskusi yang dipandu oleh Asisten I Wali Kota Sawahlunto, Irzam K, mengupas tuntas bahwa masa depan pariwisata kota ini bergantung pada kesadaran warganya. Ketua Umum Badan Pengelola Geopark Sawahlunto, Rovanly Abdams, mengingatkan bahwa geopark bukan melulu soal batu-batuan mati.

Baca Juga  Bulan K3 Nasional: Riyanda Putra Tegaskan Seluruh Perusahaan di Sawahlunto Wajib Utamakan Keselamatan Pekerja

“Geopark itu mencakup geoheritage, bioheritage (hayati), dan cultural heritage (budaya),” ujar Rovanly di hadapan peserta. Ia menekankan bahwa seluruh elemen masyarakat harus bersinergi menjaga warisan alam ini agar dampaknya bisa langsung dirasakan oleh dompet dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Potensi Sawahlunto memang tidak main-main. Ketua Harian Geopark, Efdi, membeberkan bahwa kota ini sudah mengantongi empat geosite berkelas internasional. Di antaranya adalah fosil Foraminifera dari zaman Permian yang berusia lebih dari 250 juta tahun, fosil ikan air tawar purba, hingga jejak burung zaman Oligosen dan batubara antrasit bermutu tinggi.

“Keunikan geologi ini adalah kekayaan ilmiah yang sangat penting,” kata Efdi. Selain kelas dunia, ada pula dua situs bernilai nasional yang menampilkan ketidakselarasan sedimentasi purba yang sangat langka di dunia.

Daya tarik perut bumi Sawahlunto rupanya sudah terdengar hingga ke mancanegara. Irzam K menceritakan bagaimana kawasan ini telah berubah menjadi laboratorium raksasa yang hidup. Mahasiswa dan peneliti dari Universitas Negeri Padang, UIR, Universitas Jambi, hingga universitas top Malaysia seperti Petronas University, bergantian datang untuk meneliti.

Ketua Prodi Teknik Geologi UIR, Budi Prayitno, meyakinkan bahwa kampus-kampus kebumian tidak akan berhenti membawa mahasiswanya ke Sawahlunto. Namun, ada satu syarat mutlak: masyarakat harus tetap ramah, terbuka, dan berkomitmen menjaga kelestarian situs-situs tersebut.

Baca Juga  Gandeng RSO M Hatta, Pemko Sawahlunto Perkuat Benteng Pencegahan Stroke

Sebuah pertanyaan menarik sempat dilemparkan oleh Kepala Desa Rantih dalam diskusi tersebut tentang bagaimana cara menaikkan kelas sebuah situs lokal menjadi internasional. Budi Prayitno menjawabnya dengan optimistis. Kuncinya ada pada keseriusan riset lokal dan konsistensi publikasi ilmiah di jurnal-jurnal internasional.

Kini, bola salju pengembangan Geopark Sawahlunto sedang menggelinding. Jika dirawat dengan benar, bentang alam Ombilin Basin ini tidak hanya akan melahirkan pengetahuan baru bagi dunia, tetapi juga membuka keran investasi dan menghidupkan warisan budaya demi masa depan anak cucu Sawahlunto.

Kekayaan Geologi Kelas Dunia

Geopark Sawahlunto kini tercatat memiliki empat situs geologi (geosite) dengan nilai warisan internasional yang mencakup:

1. Fosil Foraminifera: Berasal dari zaman Permian (259,51 – 251,902 juta tahun lalu).

2.  Fosil Ikan Air Tawar: Hidup pada zaman Paleosen Tengah – Eosen (61,66 – 33,9 juta tahun lalu).

3.   Fosil Jejak Burung: Berasal dari zaman Oligosen (33,9 – 23,04 juta tahun lalu).

4. Batubara Antrasit: Batubara premium berusia jutaan tahun dari zaman Oligosen. (*)