JAKARTA, POLIKATA.COM – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menghadiri forum kepemimpinan bergengsi Supermentor-28 on Leadership yang digelar di The St. Regis Auditorium, Jakarta, Selasa malam (14/4/2026). Forum ini menjadi ajang refleksi bagi para pemimpin nasional untuk membedah strategi menghadapi ketidakpastian global melalui pengalaman para tokoh dunia.
Mahyeldi menegaskan bahwa materi yang diulas dalam pertemuan tersebut memberikan referensi baru yang sangat relevan dengan tantangan kepemimpinan di tingkat daerah saat ini.
“Sejarah membuktikan, pemimpin besar tidak lahir dari situasi yang mudah. Mereka dibentuk oleh keberanian moral dan keteguhan karakter saat menghadapi ujian zaman,” ujar Mahyeldi di sela-sela acara.
Dalam forum tersebut, Mahyeldi menyoroti tiga narasi kepemimpinan dari tokoh dunia yang menjadi inti pembelajaran.
Pertama, Nelson Mandela dengan memelajari kekuatan persatuan untuk menyatukan bangsa yang terfragmentasi. Kemudian, Lee Kuan Yew, bagaimana disiplin visi mampu mengubah keterbatasan sumber daya menjadi kekuatan ekonomi dunia (nation-building).
Terakhir, Susilo Bambang Yudhoyono, s3ni mengelola transisi kekuasaan dan pengambilan keputusan strategis di masa krisis nasional.
Menurut Mahyeldi, ketiga tokoh tersebut mengajarkan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup. “Di tengah situasi yang dinamis, diperlukan sosok pemimpin yang juga tangguh secara moral,” imbuhnya.
Dinamika Tokoh Nasional
Acara yang digagas oleh pakar diplomasi Dr. Dino Patti Djalal ini juga menjadi ruang diskusi lintas sektor. Tampak hadir sejumlah pejabat negara di antaranya Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, serta beberapa Wakil Menteri Kabinet Merah Putih.
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Sandiaga Uno dan Ilham Habibie semakin memperkaya dialog mengenai masa depan kepemimpinan Indonesia di kancah internasional.
Bagi Sumatera Barat, partisipasi Gubernur dalam forum ini diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam tata kelola pemerintahan yang lebih visioner dan adaptif terhadap perubahan global yang cepat. (red)












