PADANG, POLIKATA.COM— Tahu dan tempe boleh jadi identitas kuliner Indonesia, namun bahan baku utamanya bercerita tentang ketergantungan yang mengkhawatirkan. Hingga April 2026, Indonesia masih terjebak dalam ironi besar: mengonsumsi protein nabati lokal yang 90% sumbernya berasal dari kedelai impor, mayoritas dari Amerika Serikat dan Brasil.
Pakar Ilmu Tanah Universitas Andalas, Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, membedah akar masalah ini bukan sekadar soal luas lahan, melainkan “perang” melawan kondisi alam tropis dan kesehatan tanah yang kian menurun.
Berdasarkan data terbaru, kebutuhan kedelai nasional melampaui 2,5 juta ton per tahun, sementara produksi petani lokal masih terseok-seok di angka ratusan ribu ton.
“Produktivitas kita hanya 1,5 hingga 1,7 ton per hektare. Bandingkan dengan negara produsen utama yang sudah menembus 3,3 ton per hektare,” ujar Prof. Dian, Jumat (10/4/2026). Ukuran biji kedelai impor pun lebih besar dan seragam, menjadikannya pilihan utama industri pengrajin tahu-tempe.
Prof. Dian menjelaskan bahwa faktor iklim dan tanah adalah penghambat alami yang belum mampu ditaklukkan teknologi lokal secara masif. Pertama, anomali tropis. Di Brasil atau AS, fase pengisian biji terjadi saat kondisi kering namun air tanah cukup. Di Indonesia, fase kritis ini sering dihantam hujan dan kelembapan tinggi, yang justru menghambat fotosintesis. Akibatnya, biji kedelai tidak terisi penuh.
Kemudian, tanah tropis Indonesia umumnya masam dengan kandungan besi dan aluminium tinggi. Unsur ini mengikat Fosfor (P)—bahan bakar utama tanaman untuk mengisi biji. “Tanaman mungkin terlihat hijau, tapi energi untuk menghasilkan biji besar tidak ada,” tambahnya.
Keasaman tanah juga membunuh bakteri penambat nitrogen alami. Tanpa nitrogen yang cukup, pembentukan protein pada biji kedelai menjadi terhambat.
Dikatakan guru besar Unand ini, ketergantungan pada impor bukan tanpa risiko. Fluktuasi harga global dan biaya logistik seringkali membuat perajin tahu-tempe menjerit. Prof. Dian menekankan bahwa solusi tidak bisa lagi menggunakan cara konvensional.
“Kita harus beralih ke pertanian presisi. Selama tanah hanya dianggap media tanam, bukan sistem hidup, kita akan terus kalah,” tegasnya.
Langkah strategis yang mendesak dilakukan antara lain, pengapuran masif untuk menetralkan pH tanah dan penggunaan inokulan bakteri penambat nitrogen. Pengembangan benih yang khusus direkayasa untuk toleran terhadap tanah masam dan radiasi matahari rendah (mendung).
“Mengubah struktur tani dari skala kecil yang kekurangan modal menjadi pengelolaan berbasis kawasan dengan teknologi analisis tanah digital,” ulasnya.
“Di negeri tahu dan tempe ini, tantangannya bukan sekadar menanam, tapi memahami tanah tempat ia tumbuh. Masa depan kedaulatan pangan kita terkubur di dalam tanah yang harus segera kita sehatkan,” tutup Prof. Dian. (*)












