BeritaHeadlinePadangSumatera Barat

Demi Senyum di Wajah Ibu: Cerita Fathir dan Asyifa Menjemput Mimpi Lewat Barisan Paskibraka

×

Demi Senyum di Wajah Ibu: Cerita Fathir dan Asyifa Menjemput Mimpi Lewat Barisan Paskibraka

Sebarkan artikel ini
MENJEMPUT ASA- Fathir Firat Niko, siswa dari MAN 2 Kota Padang dan Asyifa Aprilia Sari, siswi dari SMA Negeri 1 Padang, dua remaja yang menitipkan harap pada Sang Saka saat mengikuti Seleksi Calon Paskibraka Kota Padang, di Gedung Youth Center Kota Padang, Sabtu (4/4/2026).

PADANG, POLIKATA.COM — Gedung Youth Center Kota Padang, Sabtu (4/4/2026), tidak sekadar menjadi saksi bisu sebuah kompetisi. Di balik dindingnya, udara seolah bergetar oleh detak jantung dan ambisi ratusan remaja terbaik Kota Padang.

Ada raut serius yang terpahat di wajah-wajah muda, namun di balik itu, binar semangat mereka bercerita tentang cinta yang besar pada tanah air.

Tahun ini, sebanyak 423 pelajar—198 putra dan 225 putri yang lolos kurasi administrasi—mulai menapakkan kaki di tangga ujian. Di bawah payung pembinaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, mereka bukan sekadar berebut posisi sebagai pengibar bendera. Mereka sedang menempa mental, mengasah disiplin, dan memahat karakter nasionalisme.

Dari ratusan langkah kaki yang berderap, ada kisah Fathir Firat Niko, siswa dari MAN 2 Kota Padang dan Asyifa Aprilia Sari, siswi dari SMA Negeri 1 Padang. Bagi mereka, seleksi ini adalah “medan tempur” perdana untuk menaklukkan keraguan diri.

Baca Juga  Kepulan Asap Kian Pekat, Bank Nagari Sebar 204.500 Masker untuk Pelajar dan Warga Sumbar

Fathir, dengan sorot mata tajam namun penuh hormat, membawa misi yang sederhana namun menyentuh: membahagiakan orang tua. “Saya ingin mereka bangga,” tuturnya pelan namun tegas.

Baginya, setiap tetes keringat di tahapan seleksi adalah investasi menuju impiannya mengenakan seragam Akpol. Paskibraka adalah batu loncatan baginya untuk belajar bahwa menjadi abdi negara dimulai dari disiplin yang paling kecil.

Tak jauh darinya, Asyifa berdiri dengan optimisme yang merekah. Siswi SMA 1 Padang ini melihat setiap tahapan—mulai dari tes wawasan kebangsaan hingga kesamaptaan—sebagai kepingan puzzle yang akan menyusun masa depannya sebagai seorang Polwan. “Lewat Paskibraka, jalan saya untuk mengabdi negeri semakin terbuka,” ungkapnya dengan senyum penuh keyakinan.

Baca Juga  Seleksi Paskibraka Sumbar 2026: Pemko Payakumbuh Kirim 6 Siswa Terbaik ke Tingkat Provinsi

Perjalanan mereka masih panjang. Hingga 14 April mendatang, ketahanan fisik dan ketajaman berpikir mereka akan terus diuji. Pada akhirnya, hanya 26 putra dan 28 putri terbaik yang akan terpilih mengenakan seragam kebanggaan Kota Padang, bahkan mungkin melaju ke tingkat provinsi.

Namun, lebih dari sekadar angka dan peringkat, kisah Fathir dan Asyifa adalah cermin bagi generasi muda Minang. Bahwa di tangan mereka, bendera bukan sekadar kain yang berkibar, melainkan janji suci untuk terus menjaga mimpi dan mengabdi pada pertiwi. (*)