PADANG, POLIKATA.COM— Destinasi wisata alam Tapian Tabiang Barasok di Kelurahan Bukik Apit Puhun, Kota Bukittinggi, tengah dipersiapkan sebagai model pengembangan ekowisata berkelanjutan berbasis masyarakat. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, tim Universitas Andalas (UNAND) yang dipimpin Prof. Dr. Rahmi Fahmy, S.E., M.B.A. mendampingi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sepanjang 2026 guna memperkuat tata kelola kawasan sekaligus menyusun Buku Putih sebagai referensi pengembangan destinasi wisata rintisan.
Meski baru dibuka untuk umum pada akhir 2024, Tapian Tabiang Barasok diarahkan berkembang secara terencana sejak awal. Menurut Prof. Rahmi Fahmy, pendekatan tersebut penting agar fondasi keberlanjutan telah terbentuk sebelum destinasi tumbuh lebih luas.
“Berbeda dengan banyak destinasi baru yang berkembang tanpa perencanaan jangka panjang, kami ingin fondasi keberlanjutannya dibangun lebih awal,” ujarnya pada Kamis (30/7/2026).
Pendampingan tidak hanya berfokus pada peningkatan daya tarik wisata, tetapi juga membangun sistem pengelolaan yang mampu menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat kelembagaan masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga.
Tapian Tabiang Barasok memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alam berkat panorama yang menarik, tingginya partisipasi masyarakat, keterlibatan pelaku UMKM, serta dukungan tokoh adat. Namun, sebagai destinasi yang masih berkembang, Pokdarwis menghadapi tantangan pada aspek manajemen organisasi dan perencanaan jangka menengah sehingga diperlukan pendampingan yang berkelanjutan.
Program diawali dengan pelatihan Sustainable Recreation, Ecotourism & SDGs pada 29 April 2026 yang menghadirkan akademisi ekowisata dari Malaysia, Dr. Sheena Bidin. Pelatihan ini memberikan pemahaman mengenai pengelolaan wisata berbasis kearifan lokal yang menyeimbangkan konservasi lingkungan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Pokdarwis mulai menyusun visi dan misi pengelolaan kawasan yang berorientasi pada sustainable recreation and ecotourism sekaligus memetakan potensi integrasi antara kekayaan alam dan budaya lokal sebagai daya tarik utama destinasi.
Pendampingan berlanjut melalui pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan media sosial pada 3 Juni 2026. Anggota Pokdarwis bersama pemuda setempat dibekali keterampilan memproduksi konten promosi digital, termasuk video pendek untuk Instagram dan TikTok. Selanjutnya, pelatihan tata kelola organisasi pada 30 Juni 2026 menghasilkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan kawasan serta rancangan implementasi community-based tourism yang berfokus pada pengembangan eco-edutourism. Seluruh proses dilakukan secara partisipatif melalui FGD, lokakarya, dan pendampingan lapangan.
Sebagai luaran utama, tim pengabdian UNAND tengah menyusun Buku Putih berjudul Model Pengelolaan Kawasan Wisata Alam Berbasis Sustainable Recreation and Ecotourism: Pembelajaran dari Pokdarwis Tapian Tabiang Barasok. Dokumen tersebut memuat model tata kelola destinasi berbasis komunitas, strategi penciptaan lapangan kerja yang layak, serta rekomendasi kebijakan yang diharapkan menjadi rujukan bagi pengembangan destinasi wisata alam di Sumatera Barat maupun daerah lain di Indonesia.
Program ini juga menjadi kontribusi UNAND dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pekerjaan layak, pertumbuhan ekonomi, dan pengurangan kemiskinan melalui pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Ke depan, pendampingan akan difokuskan pada penguatan legalitas Pokdarwis, penyusunan paket wisata edukasi, pelatihan pemandu wisata, digitalisasi pemasaran, serta penyusunan zonasi konservasi agar Tapian Tabiang Barasok berkembang sebagai destinasi yang berdaya saing sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan dan nilai-nilai budaya lokal.
Program ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program EQUITY (Kontrak Nomor 4304/B3/DT.03.08/2025).(*)












