BeritaHeadlineNasionalPolitik

787 Warga Sipil Iran Syahid Akibat Serangan AS-Israel

10
×

787 Warga Sipil Iran Syahid Akibat Serangan AS-Israel

Sebarkan artikel ini
SERANGAN ISRAEL— Serangan udara Israel dilaporkan menghantam sebuah rumah sakit di kawasan Gandhi Street, Teheran, pada Minggu (2/3/2026). Dua saksi mata kepada Reuters menyebut bangunan tersebut mengalami kerusakan parah dan pasien terpaksa dievakuasi. Menurut laporan, serangan tersebut menargetkan Gandhi Hospital di wilayah utara ibu kota Iran, di hari kedua operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

POLIKATA.COM— Bulan Sabit Merah Iran mengkonfirmasi jumlah korban jiwa akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah meningkat menjadi 787 orang. Demikian laporan Aljazirah, mengutip data yang disampaikan Bulan Sabit Merah Iran, Selasa (3/3/2026).

Militer Israel dan AS mulai menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu. Operasi ini tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa di sejumlah wilayah Iran. Pemimpin tertinggi negara republik Islam tersebut, Ayatullah Ali Khamenei, juga dilaporkan syahid usai kediamannya di Teheran menjadi sasaran serangan udara AS-Israel.

Sebelumnya, serangan gabungan Washington dan Tel Aviv pada Sabtu (28/2/2026) lalu menarget sebuah sekolah putri Shadjareh Tayebeh di Iran selatan. Menurut keterangan media setempat, sebanyak 165 orang kehilangan nyawa akibat serangan tersebut.

The Guardian melansir, video dan foto-foto setelah kejadian tersebut, yang telah diverifikasi keasliannya dan memiliki geolokasi ke lokasi tersebut, menunjukkan ratusan orang berkumpul di sekitar bangunan yang sebagian runtuh dan berasap, dengan puing-puing berserakan di jalan dan para lelaki menggali di dalamnya untuk mencari korban. Jeritan terdengar di latar belakang.

Baca Juga  Bersiap! Mulai 23 Februari, 85.000 Pelajar SD dan SMP se-Kota Padang Ikut Pesantren Ramadhan

Dalam beberapa gambar, tas sekolah dan buku pelajaran ditarik dari puing-puing. Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS, mengatakan AS “mengetahui laporan mengenai kerugian warga sipil akibat operasi militer yang sedang berlangsung. Kami menanggapi laporan ini dengan serius dan sedang menyelidikinya.”

Di Washington DC, Presiden AS Donald Trump menyatakan, operasi militer negaranya bersama dengan Israel terhadap Iran bisa berlangsung sekira empat pekan. Ia juga mengakui konsekuensi dengan durasi perang tersebut akan ada korban jiwa dari kalangan militer AS.

“Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat pekan atau kurang,” kata Trump dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Daily Mail, dilansir republika, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga  Audiensi dengan Wako Solok, Guru PAUD Minta Peningkatan Kesejahteraan dan Penguatan Kapasitas

Satu Dari Warga AS Menyetujui Serangan Militer

Hasil jajak pendapat terbaru yang dirilis oleh Reuters/Ipsos menunjukkan, hanya satu dari empat warga AS yang menyetujui serangan militer negaranya terhadap Iran. Agresi yang dilakukan bersama Israel tersebut telah menjerumuskan kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran konflik.

Berdasarkan survei tersebut, hanya 27 persen responden AS yang menyatakan setuju terhadap serangan yang dimulai sejak Sabtu (28/2/2026) dini hari dan menewaskan pemimpin Iran tersebut. Sebaliknya, sebanyak 43 persen responden menyatakan tidak setuju. Adapun 29 persen lainnya mengaku ragu-ragu.

Jajak pendapat yang berakhir pada Minggu (1/3/2026) ini juga mengungkapkan bahwa 56 persen warga AS menilai Presiden Donald Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk memajukan kepentingan AS. Pandangan ini dianut oleh 87 persen pendukung Partai Demokrat, 60 persen pemilih independen, dan secara mengejutkan didukung oleh 23 persen pendukung Partai Republik. (*)