BeritaNasional

Malam Ini Gerhana Bulan Total, Begini Tata Cara Shalat Khusuf

1
×

Malam Ini Gerhana Bulan Total, Begini Tata Cara Shalat Khusuf

Sebarkan artikel ini
SHALAT GERHANA- Gerhana matahari dan gerhana bulan bukan sekadar fenomena alam, melainkan tanda kebesaran Allah SWT yang mengandung pesan spiritual bagi umat Islam. Rasulullah SAW mencontohkan agar setiap Muslim memperbanyak dzikir, doa, dan menunaikan shalat saat menyaksikan peristiwa tersebut. (foto: Ilustrasi AI)

PADANG, POLIKATA.COM—  Gerhana matahari dan gerhana bulan bukan sekadar fenomena alam, melainkan tanda kebesaran Allah SWT yang mengandung pesan spiritual bagi umat Islam. Rasulullah SAW mencontohkan agar setiap Muslim memperbanyak dzikir, doa, dan menunaikan sholat saat menyaksikan peristiwa tersebut.

Gerhana bulan total akan terjadi malam ini, Selasa (3/3/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan waktu puncak gerhana bulan total di Jakarta dan sekitarnya terjadi pada pukul 18.33.39 WIB.

Lalu, bagaimana tata cara shalat gerhana bulan (shalat khusuf) sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW dan dijelaskan para ulama?

Dalam sabdanya, Nabi Muhammad SAW memerintahkan berzikir, berdoa, dan mengerjakan sholat saat terjadi gerhana matahari maupun gerhana bulan. Perintah mengerjakan sholat gerhana juga diisyaratkan dalam Alquran.

Ziyad bin Ilaqah berkata, “Aku mendengar Al-Mughirah bin Syu’bah berkata, telah terjadi gerhana matahari ketika wafatnya Ibrahim.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan keduanya tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka berdoalah kepada Allah dan dirikan sholat hingga (matahari) kembali nampak.” (HR Imam Al-Bukhari)

Terkait shalat gerhana, ada beberapa dalil mengenai anjuran untuk melaksanakannya. Di antaranya adalah sebagai berikut. Dalil pertama adalah Alquran Surat Fussilat Ayat 37.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Wa min āyātihil-lailu wan-nahāru wasy-syamsu wal-qamar(u), lā tasjudū lisy-syamsi wa lā lil-qamari wasjudū lillāhil-lażī khalaqahunna in kuntum iyyāhu ta‘budūn(a).

Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (QS Fussilat Ayat 37)

Baca Juga  HMD Biologi FMIPA UNP Tuntaskan Kerja Sebulan Bantu Korban Banjir di Koto Pulai

Maksud dari perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Yang Menciptakan matahari dan bulan adalah perintah untuk mengerjakan shalat gerhana matahari dan shalat gerhana bulan.

Abi Bakrah Radhiyallahu anhu berkata, “Kami pernah bersama Nabi Muhammad SAW lalu terjadi gerhana matahari. Lalu Nabi SAW menyeret selendangnya menuju masjid dan sholat dua rakaat, dan kami ikut sholat sampai selesai gerhana.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak terjadi gerhana karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihatnya maka sholatlah dan berdoalah sampai gerhana selesai.” (HR Imam Al-Bukhari)

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma berkata bahwa telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Muhammad SAW. Lalu, Nabi Muhammad SAW sholat bersama orang-orang. Beliau berdiri lama seperti membaca Surat Al-Baqarah lamanya.

Lalu, rukuk sangat lama sekali, lalu berdiri lama tidak selama berdiri di awal. Lalu rukuk sangat lama tidak selama rukuk di awal tadi. Lalu sujud. Setelah selesai, beliau berdiri lagi tidak selama berdiri di awal. Lalu rukuk sangat lama sekali, lalu berdiri lama tidak selama berdiri di awal.

Lalu, rukuk sangat lama tidak selama rukuk di awal tadi. Lalu sujud. Setelah selesai sholat, ternyata gerhana matahari sudah berakhir.

Lalu, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Gerhana terjadi bukan karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihatnya maka berzikirlah kepada Allah SWT.” (HR Imam Muslim)

Abi Bakrah Radhiyallahu anhu berkata, “Kami pernah bersama Nabi Muhammad SAW lalu terjadi gerhana matahari. Lalu Nabi SAW menyeret selendangnya menuju masjid dan sholat dua rakaat, dan kami ikut shalat sampai selesai gerhana.”

Baca Juga  Pastikan Kelengkapan Kendaraan Anda, Hari ini Ditlantas Polda Sumbar Gelar Operasi Keselamatan Singgalang 2026

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak terjadi gerhana karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihatnya maka sholatlah dan berdoalah sampai gerhana selesai.” (HR Imam Al-Bukhari)

Berikut Tata Cara Shalat Gerhana Bulan (Khusuf)

  1. Berniat di dalam hati

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/مَأمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal khusufi rak‘ataini imâman/makmuman lillahi ta‘ala

Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah swt.”

  1. Takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.
  2. Membaca doa iftitah dan berta’awudz, kemudian membaca Surat Al-Fatihah dilanjutkan membaca surat yang panjang seperti Surat Al-Baqarah sambil dijaharkan atau dikeraskan suaranya, bukan lirih. Sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah, Nabi Muhammad SAW menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika sholat gerhana. (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).
  3. Kemudian, rukuk sambil memanjangkannya.
  4. Kemudian, bangkit dari rukuk (i’tidal) sambil mengucapkan sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakal hamd.
  5. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
  6. Kemudian, rukuk kembali (rukuk kedua) yang panjangnya lebih pendek dari rukuk sebelumnya.
  7. Kemudian, bangkit dari rukuk (i’tidal).
  8. Kemudian, sujud yang panjangnya sebagaimana rukuk, lalu duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali.
  9. Kemudian, bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama, hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
  10. Salam.
  11. Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada jamaah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdoa, beristighfar, dan bersedekah.