BeritaHeadlinePolitik

Dosen HI Unand: Konflik Iran dan AS–Israel Picu Ketegangan Politik dan Ekonomi Global

9
×

Dosen HI Unand: Konflik Iran dan AS–Israel Picu Ketegangan Politik dan Ekonomi Global

Sebarkan artikel ini
SERANGAN UDARA— Sejumlah warga menyaksikan serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menghantam sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran selatan, Sabtu (28/2/2026). Melansir AP, media lokal IRNA menyebut korban jiwa lima siswi tewas menjadi yang pertama dikonfirmasi di wilayah Iran sejak operasi militer dimulai. Kota Minab diketahui memiliki pangkalan Garda Revolusi Iran.

PADANG, POLIKATA.COM— Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang diikuti balasan rudal dan drone Iran ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah, memicu kekhawatiran eskalasi konflik regional dan dampak serius terhadap stabilitas global.

Dosen yang juga Pakar Hubungan Internasional FISIP Universitas Andalas, Virtuous Setyaka, Minggu (1/3/2026), menekankan bahwa peristiwa ini bukan sekadar operasi militer terbatas, melainkan bagian dari dinamika konflik jangka panjang antara AS, Israel, dan Iran.

Laporan media internasional menyebut serangan awal menargetkan fasilitas militer strategis Iran, termasuk kapasitas rudal, angkatan laut, dan pusat komando terkait Garda Revolusi Iran. Iran merespons dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta lokasi yang berkaitan dengan kepentingan militer AS di kawasan.

“Eskalasi ini menunjukkan konflik terkait rivalitas geopolitik, keamanan regional, dan kepentingan energi global,” kata Virtuous. Ia menambahkan, ketegangan ini juga bisa memengaruhi stabilitas politik di Timur Tengah, termasuk hubungan negara-negara Arab dengan Israel yang sebelumnya normal melalui Abraham Accords.

Baca Juga  One Day One Juz: Perkuat Identitas Kota Serambi Madinah yang Religius dan Kualitas Spiritual ASN

Virtuous mengingatkan skenario terburuk dari eskalasi ini: perang multi-front, disrupsi pasokan energi global, kesalahan perhitungan militer, dan krisis kemanusiaan. Selat Hormuz, sebagai jalur vital distribusi minyak dan gas dunia, menjadi titik rawan yang dapat memicu lonjakan harga energi, meningkatnya biaya logistik, dan ketidakstabilan pasar global.

“Energi dan keamanan di kawasan ini saling terkait. Setiap eskalasi militer hampir selalu diikuti gejolak ekonomi global,” ujarnya.

Konflik ini juga menunjukkan meningkatnya polarisasi global. Reaksi keras sejumlah negara besar di Dewan Keamanan PBB mengungkap perbedaan tajam terkait legitimasi penggunaan kekuatan militer. Virtuous menilai, ketika konsensus global melemah, kekuatan militer semakin menjadi instrumen utama kebijakan luar negeri.

Iran bukan hanya negara regional biasa, tetapi aktor penting dengan kapasitas militer, industri, dan pengaruh politik signifikan di Timur Tengah. Setiap konflik yang melibatkan Iran berpotensi meluas melalui aliansi atau kelompok proksi. Konflik ini mencerminkan perubahan keseimbangan kekuasaan global yang sedang berlangsung.

Baca Juga  Manfaatkan Limbah Jagung, Nilam, Kopi: Bupati Pasbar Apresiasi Biochor Digital Produk Koperasi Produsen Hidup Basamo Sepakat

Meskipun kemungkinan perang dunia langsung masih rendah karena biaya politik dan ekonomi besar, risiko konflik regional berskala besar meningkat jika eskalasi terus berlanjut tanpa mekanisme de-eskalasi. Virtuous menekankan pentingnya jalur diplomasi dan komunikasi krisis untuk mencegah salah perhitungan yang dapat memperluas konflik.

“Serangan militer dapat merusak kapasitas pertahanan, tetapi tidak otomatis menyelesaikan akar konflik politik dan keamanan yang mendasarinya,” ujarnya. Perkembangan 28 Februari 2026 menjadi indikator bahwa sistem keamanan internasional memasuki fase ketidakpastian baru, di mana stabilitas tidak lagi ditopang sepenuhnya oleh konsensus global, melainkan oleh keseimbangan kekuatan yang terus berubah. (red)