JAKARTA, POLIKATA.COM — Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade mendorong PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) segera mengambil langkah konkret membangun infrastruktur pelabuhan dan industri berbasis crude palm oil (CPO) di Sumatera Barat. Ia menilai penguatan sektor logistik dan hilirisasi sawit menjadi kunci untuk menyelamatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang saat ini tertinggal di Pulau Sumatera.
Dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI bersama jajaran Pelindo, Andre menegaskan kondisi ekonomi Sumbar memerlukan intervensi serius dari BUMN strategis. Ia meminta Pelindo tidak hanya berperan sebagai operator pelabuhan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekosistem industri berbasis potensi daerah.
“Tugas saya sebagai anggota DPR adalah mencari terobosan supaya pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang terburuk di Pulau Sumatera ini bisa kembali bangkit. Saya mohon Pelindo masuk dan bantu mengembangkan potensi yang ada,” kata Andre, Kamis (2/4/2026).
Andre menyoroti rendahnya aktivitas industri sebagai penyebab utama minimnya utilisasi logistik di daerah. Meski Pelabuhan Teluk Bayur telah beroperasi baik, arus kontainer masih rendah karena basis industri belum berkembang.
“Kontainer yang masuk ke Sumbar hanya terisi sekitar 30 persen. Kita hampir tidak punya industri besar selain Semen Padang. Padahal peluang dari sektor CPO sangat besar,” tegasnya.
Menurut Andre, pembangunan kawasan logistik dan depo CPO di Air Bangis, Kabupaten Pasaman Barat, berpotensi menjadi game changer ekonomi Sumbar. Lokasi ini dinilai strategis sebagai pusat distribusi sawit dari berbagai daerah di pantai barat Sumatera.
“Di Air Bangis bisa dibangun depo Pertamina dan depo CPO. Sawit kita besar, bukan hanya dari Pasaman Barat, tapi juga dari Agam bahkan dari Sumatera Utara. Daripada dibawa ke Medan yang lebih jauh, lebih baik dialihkan ke Air Bangis,” ujarnya.
Ia juga menilai kawasan Pesisir Selatan hingga perbatasan Bengkulu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai koridor logistik sawit baru melalui pembangunan pelabuhan khusus CPO. Infrastruktur tersebut diyakini akan memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.
Andre bahkan mengingatkan kondisi ekonomi Sumbar sudah memasuki fase mengkhawatirkan karena terjadi ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
“Pertumbuhan ekonomi di provinsi saya hanya sekitar 3 persen, sementara inflasi mencapai 6 persen. Artinya daya beli masyarakat tergerus. Ini sudah mengarah pada pemiskinan secara terstruktur kalau tidak segera diatasi,” katanya.
Meski memberikan kritik keras soal lemahnya dukungan industri di daerah, Andre tetap mengapresiasi transformasi digital yang dilakukan Pelindo dalam modernisasi operasional pelabuhan nasional. Namun ia menegaskan transformasi tersebut harus diikuti keberpihakan nyata kepada daerah-daerah yang membutuhkan akselerasi ekonomi.
“Transformasi digital Pelindo luar biasa. Tapi kami berharap ada langkah konkret yang langsung berdampak pada kebangkitan ekonomi Sumatera Barat,” tutup Andre. (*)











